Lukas Enembe Kecam Persekusi Terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya

Robert Isidorus / CAH Minggu, 18 Agustus 2019 | 23:14 WIB

Jayapura, Beritasatu.com – Penggerebekan serta penangkapan 43 mahasiswa asal Papua di Asrama Papua serta tindakan persekusi yang dilakukan sejumlah ormas di Kota Surabaya, Kamis (16/8/2019) lalu, membuat Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe prihatin dan menaruh rasa empati terkait insiden tersebut. 

Lukas Enembe mengatakan pemerintah Provinsi Papua menghargai upaya hukum yang dilakukan oleh aparat keamanan sepanjang dilakukan secara profesional dan berkeadilan.

“Kami harap aparat tidak melakukan pembiaran terkait dengan aksi persekusi dan main hakim sendiri yang dilakukan kelompok atau oknum individu yang dapat melukai masyarakat Papua. Hindari langkah yang dapat menimbulkan korban jiwa,” seru Lukas Enembe.

Ia pun menegaskan insiden yang terjadi di Surabaya sangat menyakiti hati masyarakat Papua. dimana ada rasisme serta perkataan yang melukai dan menciderai masyarakat Papua pada umumnya.

“Apa yang terjadi di Surabaya itu sangat menyakitkan. Kami bukan bangsa Monyet. Kami manusia, kami Masyarakat Papua yang punya harga diri dan martabat, sama seperti bangsa lainnya yang ada di Republik ini,” tegasnya.

Kata Lukas, Provinsi Papua merupakan wilayah dari negara kesatuan republik Indonesia yang dikenal sebagai miniatur Indonesia. Penduduk Provinsi Papua sangat beragam dan multi etnis, multi agama dan multi budaya yang hidup secara berdampingan.

“Masyarakat Papua menyambut baik masyarakat non Papua secara terhormat bahkan sejajar. Oleh karena itu kami berharap kehadiran Masyarakat Papua dapat diterima seluruh masyarakat yang ada di luar Papua. Hal ini merupakan komitmen kita bersama sebagai anak bangsa yang mewujudkan Indonesia yang damai berdaulat,” serunya

Pemerintah provinsi Papua menyampaikan kepada seluruh masyarakat Papua yang ada di Papua maupun diluar Papua untuk merespon insiden surabaya secara wajar, tanpa ada tindakan yang merugikan.

Sementara kepada masyarakat non Papua, lanjut Lukas untuk selalu menjaga harmoni kehidupan dan tidak melakukan tindakan yang inkonstitusional seperti persekusi main hakim sendiri dan tindak sesuai kehendak, bertindak rasis dan diskriminatif yang dapat melukai masyarakat Papua serta mengganggu harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita sudah 74 tahun merdeka, seharusnya tindak intoleran, rasial dan dikrimantif tidak terjadi di negara kesatuan kita,” tandasnya.

Ia mengajak seluruh kepada seluruh pemangku kepentingan bagi Gubernur, Wali kota dan Bupati di seluruh Indonesia untuk melakukan pembinaan kepada pelajar dan mahasiswa Papua di wilayah masing-masing, sebagai mana yang dilakukan pemerintah provinsi Papua terhadap pelajar dan mahasiswa di Papua yang berasal dari luar Papua.

“Hal ini merupakan upaya kita untuk mencegah insiden serupa dimasa yang akan datang sekaligus merajut rasa nasionalisme persatuan, kebersamaan sebagai anak bangsa,” tegasnya.

“Nanti akan ada tim yang kami bentuk yang melibatkan pemerintah provinsi, Kodam dan Polda Papua, MRP serta DPR bahkan kami libatkan wartawan, Apakah nanti mahasiswa kami pulangkan atau tidak nanti kita lihat situasinya lagi,”

tandasnya.

Sumber: Suara Pembaruan

Add Comment