Forum Kepulauan Pasifik dibuka di Tuvalu

Forum Kepulauan Pasifik (PIF) yang ke-50 dibuka di Tuvalu Rabu ini, mengumpulkan pemimpin-pemimpin Pasifik untuk membahas isu-isu penting bagi masa depan kawasan Pasifik, dan masa depan planet ini secara umum.

“Kita bertemu bukan hanya untuk orang-orang Tuvalu, tidak hanya untuk keluarga Blue Pacific, kita bertemu untuk dunia,” kata Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sopoaga, Ketua PIF yang akan datang, menjelang acara pembukaan.

“Kerja kita minggu ini adalah tentang kelangsungan hidup semua orang Pasifik, melindungi pulau-pulau dan lautan kita. Kita harus mengubah komitmen dan janji menjadi tindakan dan aksi, dan menunjukkan kepemimpinan dalam menghadapi keadaan darurat akibat perubahan iklim dengan bekerja bersama-sama,” tambah PM Enele Sopoaga.

Pertemuan PIF ke-50 ini dimulai dengan upacara pembukaan di Funafuti pada Selasa malam (13/8/2019), ketika Ketua PIF saat ini, Presiden Baron Waqa dari Nauru, menyerahkan kepemimpinan PIF ke Tuvalu.

Pertemuan resmi Kepulauan Pasifik yang ke-50 berlangsung pada Rabu, bersamaan dengan sesi dialog bersama masyarakat sipil, sektor swasta, dan badan-badan Council of regional Organisations in the Pacific atau CROP. Pada Kamis (15/8/2019), para pemimpin Pasifik kemudian akan menghabiskan satu hari dalam retret. Peluncuran Komunike Forum Kepulauan Pasifik yang ke-50 akan dilakukan pada Kamis malam, dan menandai berakhirnya pertemuan resmi PIF. Upacara penutupan akan diselenggarakan oleh Pemerintah Tuvalu pada akhir pekan ini.

Jumat pekan ini, pemimpin-pemimpin PIF akan bertemu dengan semua mitra dialog PIF, dengan tujuan inti mendesak ditingkatkannya upaya global dalam melawan perubahan iklim dan melindungi laut kita, dua isu yang saling terkait dan penting untuk tema PIF mengenai mengamankan masa depan kita di Pasifik.

“Pertemuan ini berlangsung pada momen penting dalam sejarah masa depan kita di Pasifik. Orang-orang Pasifik memercayai pemimpin-pemimpin mereka untuk menanggalkan prioritas-prioritas negara, geopolitik, dan agenda lainnya dan bersatu sebagai kesatuan yang kuat.”

“Saya mendoakan pemimpin-pemimpin kita dalam diskusi mereka, dan kami berterima kasih kepada Perdana Menteri dan semua orang Tuvalu yang telah menerima keluarga Blue Pacific minggu ini dengan hati terbuka dan tulus,” menurut Sekretaris Jenderal PIF, Dame Meg Taylor.

Semua pemimpin, atau yang mewakili, dari 18 negara anggota Forum Kepulauan Pasifik menghadiri pertemuan ini, serta anggota-anggota rekanan PIF, pengamat, dan mitra-mitra dialog.

Komitmen pendanaan Australia tak akan hentikan kritik pertambangan batu bara

Disadur dari Islands Business, sebelum Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, menuju ke Tuvalu untuk menghadiri PIF, pemerintah Australia mengumumkan bahwa mereka berkomitmen menambahkan climate funding baru untuk Pasifik.

PM Morrison menjanjikan AU $ 500 juta untuk jangka waktu lima tahun dimulai dari 2020 – digeser dari dana bantuan yang sudah dialokasikan sebelumnya – untuk membantu negara-negara Pasifik dalam investasi atas energi terbarukan, serta meningkatkan ketahanan terhadap bencana alam dan perubahan iklim.

Harapan bahwa pengumuman climate funding ini akan meredakan amarah Pasifik tentang kebijakan perubahan iklim pemerintah Australia, dengan cepat dihancurkan oleh PM Enele Sopoaga, tuan rumah KTT minggu ini.

Diwawancarai setelah pertemuan Smaller Island States (SIS) pada Selasa pagi (13/8/2019), tuan rumah PIF itu menyambut baik dukungan finansial Australia untuk aksi perubahan iklim, tetapi ia tidak berbasa-basi: “Tidak peduli berapa banyak uang yang dijanjikan, itu bukan alasan untuk tidak melakukan hal yang benar – yaitu, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), termasuk tidak membuka tambang batu bara yang baru.”

Sementara itu wartawan RNZ Pacific di Funafuti melaporkan bahwa pertemuan PIF tahun ini juga terjadi saat perhatian dunia atas Pasifik mulai meningkat, di mana negara-negara besar sedang bersaing untuk mengambil bagian. Mereka semua akan datang dengan tangan dan dompet terbuka.

Tetapi dengan itu, timbul juga kepentingan-kepentingan yang bersaing. Minat Amerika Serikat sebagian besar disebabkan oleh persaingannya dengan kebangkitan Tiongkok. Australia dan Selandia Baru juga datang karena alasan itu, dan juga untuk memulihkan hubungannya dengan Pasifik setelah diabaikan selama bertahun-tahun.

Tiongkok datang untuk memenangkan pengaruh dan kawan di Pasifik, juga untuk berupaya mematikan dukungan Pasifik untuk Taiwan. Taiwan datang untuk mempertahankan dukungan itu, karena sebagian besar sekutu internasionalnya ada di Pasifik, termasuk tuan rumah Tuvalu. Inggris juga akan hadir, membangun hubungan dengan Pasifik di dunia pasca-Brexit, dan negara-negara yang lain juga ada.

Ini juga bisa menjadi resep untuk rapat PIF yang ribet, terutama ketika para pemimpin bertemu dalam retret satu-hari Kamis besok, dimana ada jurang yang terus melebar antara negara-negara kepulauan dan barat (Australia, khususnya), dalam beberapa isu penting.

Bainimarama turun lapangan

Perdana Menteri Fiji, Frank Bainimarama, menuruni tangga pesawat dengan senyum lebar saat ia tiba di pertemuan PIF pertamanya dalam 12 tahun, menurut liputan RNZ Pacific. Fiji ditangguhkan dari PIF pada 2009, setelah pemerintah militernya membatalkan konstitusi FIji, tiga tahun setelah ia mengambil alih kekuasaan di Fiji dengan melaksanakan kudeta militer.

Dan, jika pernyataan dalam beberapa pekan terakhir adalah indikasi, PM Bainimarama ingin kembalinya dia ke PIF ini berarti.

Forum Pacific Islands Development Forum (PIDF), yang didirikan oleh Bainimarama setelah penangguhan Fiji, bertemu bulan lalu, dan Deklarasi Nadi yang tegas diumumkan. Deklarasi ini menyatakan krisis perubahan iklim, menuntut dihentikannya penggunaan batu bara, mendesak negara-negara penghasil emisi GRK tinggi untuk berhenti menghalangi upaya melawan perubahan iklim, dan menuntut negara-negara anggota PIF untuk berhenti memberikan subsidi bahan bakar minyak.

Sebelumnya PM Bainimarama pernah berkata ia tidak akan menghadiri pertemuan PIF lagi, sampai Australia dan Selandia Baru berhenti menjadi anggota penuh. (*)


Editor : Kristianto Galuwo
, Jubi

Add Comment