Para Tokoh Revolusi dan Keteladanan Mereka

Belajar dari almarhum Bapa Nelson Mandela (Africa Selatan), alamarhum bapa Dr. Thom Wainggai (Melanesia – Papua Barat) dan Xanana Gusmao (Timor Leste).

Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun oleh lawan politiknya (Apartheid). Di dalam penjara oleh salah seorang sipir dia sering disiksa, bahkan pernah digantung dgn kepala terbalik dan dikencingi, dia hanya berkata:”Tunggu saatnya..”

Ketika Mandela keluar dari penjara dan kemudian menjadi Presiden Afrika Selatan, hal pertama yg dia lakukan adalah meminta pengawal pribadinya untuk mencari sipir tersebut, pengawalnya langsung menangkap dan membawa sipir itu ke hadapannya.

Sipir tersebut sangat ketakutan, ia mengira Mandela akan membalas dendam, menyiksa dan memenjarakannya, namun ternyata Nelson malah merangkul dan berkata, Hal pertama yang ingin saya lakukan ketika menjadi Presiden adalah mengampunimu.

Dia tidak dikuasai kebencian atau niat utk balas dendam terhadap lawan-lawan politiknya dulu, memenjarakan sipir yang dulu menghina dan menyiksa dirinya. Mandela mengajarkan bagaimana membalas kejahatan dengan kebaikan, kebencian dengan kasih.

Apa yang akan kita lakukan ketika kita sudah begitu dilukai oleh seseorang atas nama negara kolonial dan kini kita memiliki kesempatan untuk membalas dendam setelah merdeka ?

Demikian sikap hati almarhum Bapa Mandela, juga pesan sang Proklamator Bapa Bangsa orang Papua Melanesia almarhum Dr. Thom Wainggai sebelum dibunuh oleh Indonesia pada masa terakhir hidupnya di Lp Cipinang – Penjara Kolonial Indonesia. Meskipun aku dibunuh oleh mereka (RI), Thom tidak membenci Indonesia demikian percakapan terakhir semasa menjalani 20 tahun di penjara kolonial Jakarta. Hal yang sama dialami oleh Xanana Gusmao setelah Timor Leste Merdeka.

(Ditulis dari beberapa referensi)

Dok foto almarhum Thom Wainggai dan Xanana Gusmao saat dipenjarakan oleh Indonesia di LP Cipinang Jakarta.

Sumber: Facebook.com

Add Comment