Uskup Agats sebut penembakan di Asmat sebagai tindakan tidak berperikemanusiaan

Jayapura, Jubi – Gereja Katholik Keuskupan Agats, Kabupaten Asmat mendorong segala usaha pemulihan kepada keluarga korban kasus penembakan pascapenyerangan di Distrik Fayit dilakukan secara holistik dengan cara-cara yang lebih bermartabat dan memenuhi unsur-unsur keadilan.

Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM, di Jayapura, Sabtu (1/6/2019), mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan penembakan yang terjadi di Basim ibu kota Distrik Fayit, pasalnya Kabupaten Asmat selama ini dikenal sebagai daerah yang aman.

“Gereja mengecam tindakan seperti ini yang mencerminkan tidak adanya rasa perikemanusiaan, di mana semua dikagetkan dengan penembakan oleh oknum anggota TNI terhadap masyarakat setempat yang memakan korban jiwa empat orang dan satu luka berat,” katanya.

Menurut Uskup Aloysius, bagi pelaku penembakan harus meminta maaf dan mengakui kesalahannya secara tulus hati kepada keluarga korban baik yang meninggal dunia maupun yang kini mengalami cacat permanen.

“Peristiwa ini harus diselesaikan secara hukum di mana pelaku harus diadili menurut undang-undang yang ada, sementara pihak korban diberikan kesempatan mengikuti proses pengadilan dengan membawa saksi-saksi, supaya proses pengadilan bisa dilakukan seadil-adilnya,” ujarnya.

Dia menjelaskan peristiwa ini merupakan pembelajaran bagi semua pihak, bagi masyarakat dari luar Asmat yang tinggal bersama warga setempat perlu, bahkan harus belajar dari kebiasaan-kebiasaan yang ada sehingga tidak terjadi salah paham dan terhindar dari hal-hal tidak diinginkan.

“Untuk itu, perlu berpikir secara jernih, tidak emosional dan tidak menggunakan cara-cara kekerasan dalam menghadapi segala macam persoalan dan tentu saja memecahkan segala persoalan dalam koridor hukum,” katanya lagi.

Dia menambahkan untuk itu pihaknya merekomendasikan agar Komnas HAM Perwakilan Papua dan Republik Indonesia untuk melakukan investigasi yang baik, benar, independen, dan objektif serta memproses sebagai kasus pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Sebelumnya, pada Senin (27/05) siang, sekitar 350 orang yang diduga digerakkan oleh salah satu oknum calon legislatif yang tidak puas atas hasil pleno KPU Asmat, mengamuk dengan merusak kantor Distrik Fayit dan salah satu rumah milik anggota DPRD Asmat.

Empat petugas Posramil Fayit yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian mencoba menenangkan dengan mengeluarkan tembakan ke atas untuk menghalau massa, namun massa justru semakin beringas dan berbalik menyerang anggota TNI tersebut.

Dalam situasi terancam salah seorang anggota posramil terpaksa mengeluarkan tembakan sambil mundur ke arah pos untuk menyelamatkan diri dan mengamankan pos dengan kekuatan yang sangat terbatas. Akibat kejadian tersebut, empat warga tewas dan satu orang lainnya mengalami luka tembak.

Empat warga yang tewas akibat kejadian tersebut adalah Xaverius Sai (40), Nikolaus Tupa (38), Matias Amunep (16) dan Frederikus Inepi (35). (*)

Add Comment