Kota Sentani Disarankan Untuk Dipindahkan

JAYAPURA – Akademisi Uncen, Yehuda Hamokwarong berpendapat bahwa dari sejarah terbentuknya Kota Sentani dari sisi tipologi fisik Kota Sentani dan sekitarnya, ia menyarankan untuk Kota Sentani dipindahkan. Pasalnya peluang terjadinya banjir 10 atau 15 tahun ke depan masih sangat memungkinkan bila melihat dari sejarah di atas.

“Banjir bandang bisa terjadi kapan saja jika kita lihat dari awal terbentuknya daratan di Sentani. Keberadaan bongkahan batu- batu besar yang menyebar diberbagai titik seperti Doyo, Kemiri, Hotel dan Kali Toladan itu menunjukkan jika dulunya pernah terjadi banjir bandang,” kata Yehuda.

Dosen Geografi Uncen ini menganggap kondisi Sentani bisa lebih parah karena kerusakan akibat pembangunan yang tak terkontrol dan tidak sesuai tata ruang. “Bantaran kali telah berubah menjadi permukiman, perambahan dan perladangan berpindah meluas di hulu termasuk pemberian ijin-ijin galian C di bagian tengah Daerah Aliran Sungai (DAS). Ini bahaya,” tambahnya.

Kata Yehuda banjir bandang jaman dulu menjadi pembentuk morfologi fisik Kota Sentani dan sekitarnya. Hanya saja aktifitas manusia saat ini memperparah sehingga dampak yang ditimbulkan lebih besar,” kata Yehuda Hamokrawong.

Ia menyarankan agar ada kajian untuk mempertimbangan kota Sentani pindah ke belakang danau Sentani yaitu dataran Sekori, Putali hingga Puai. “Saran saya jangan bertahan di Sentani saat ini. Pemkab perlu mempertimbangkan hal ini dengan serius,” ujarnya. (ade)

Source: https://www.ceposonline.com/

Add Comment