Polri Sebut Ultimatum Egianus Hanya Provokasi Jelang Pemilu

Jakarta, CNN Indonesia — Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) merespons ancaman serangan dan ultimatum dari kelompok kekerasan bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya di Nduga, Papua. Polri menilai ultimatum yang sempat disampaikan Egianus merupakan provokasi jelang pemilu. 

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menilai aksi kelompok bersenjata pimpinan Egianus hanya bersifat provokasi belaka menjelang pemilu. Polisi, kata dia, menjamin keamanan di sana terjaga mendekati hari pelaksanaan pemilu nanti.

“Di Nduga ini TNI Polri solid meyakinkan masyarakat, memberikan edukasi, untuk tidak terprovokasi terkait isu-isu yang disebarkan oleh saudara EG,” kata Dedi pada Selasa (26/2) sore.

Dedi mengatakan pihaknya telah memasang status Siaga 1 untuk mengantisipasi serangan kelompok bersenjata di sana. Ia menjamin keberadaan aparat penegak hukum membawa rasa aman bagi masyarakat Nduga dalam beraktivitas.

“Agar masyarakat tenang beraktivitas. Itu jaminan TNI Polri di sana, posisi ini sudah kita antisipasi,” kata dia.

Lihat juga: TNI Duga Warga Nduga Papua yang Lari ke Hutan Gabung KKB

Dedi mengimbau mereka yang bersimpati kepada kelompok Egianus agar tidak melakukan perlawanan. Kalau pun terbukti melakukan pelanggaran, ia berharap mereka dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kendati demikian, Dedi yakin dukungan dari masyarakat Nduga kepada Egianus hanya bagian dari propaganda. Sebaliknya, ia mengklaim pendekatan aparat mendapat apresiasi dari penduduk setempat.

“Itu bagian dari propaganda mereka dan itu sangat jauh dari fakta yang sesungguhnya,” kata Dedi meyakinkan

Lihat juga: Sempat Disetop, PUPR Lanjutkan Bangun Jembatan Trans Papua

Egianus Kogoya merupakan salah satu tokoh Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang aktif bergerilya di kawasan Nduga, Papua. Belum lama ini, Egianus menyampaikan ultimatum melalui akun Facebook milik Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM).

Dalam ultimatum berisi 7 poin itu, Egianus menekankan bahwa kelompoknya akan terus mengobarkan api perang sampai Indonesia mengakui kemerdekaan Papua. Salah satu ancaman yang disebar kelompok ini adalah meminta warga sipil non-Papua pergi meninggalkan tanah Nduga jika tak ingin diserang.

Masih dalam ultimatumya, Egianus juga megatakan bahwa manusia rambut lurus warna kulit putih adalah musuh utama. Ancaman itu disampaikan karena dia menilai banyak anggota TNI/Polri pria wanita yang selama ini menyamar sebagai ibu guru suster dan tukang bangunan bahkan sopir taksi.

Lihat juga: Moeldoko Ingin TNI di Garis Depan Tumpas KKB di Papua

Add Comment