Indonesia, PBB, America, Belanda, Australia dan manusia, militer atau senjata model bagiman pun tidak akan pernah berhasil menghapuskan ideology Bangsa Papua

By: Yamin Kogoya
Date: 17/12/2018
Title: Kurumbi Wone

Kata Papua itu bukan saja kata yang ada dalam struktur bahasa menyangkut nama suatu lokasih, geograpis atau wilayah yang ada dalam wilayah negara Indonesia dan Bumi. Kata Papua itu sudah menjadi  kata yang memiliki makna yang sangat dalam di setiap hati dan pikiran manusia Papua.

Dalam kata Papua itu ada nilai nilai kemanusiaan, ada binatang binatang dan makhluk mahluk tertentu yang tidak terletak di wilayah lain di Bumi ini, disitu ada budayah budayah tertentu dan Alam yang memiliki keindahan yang sangat unik.

Di dalam kata Papua itu ada suatu energy, perasaan, pisikologis dan pikiranya tersendiri, disitu ada kepercayaan, moralitas, etika dan karakter tersendiri.

Jadi kata Papua itu bukan lagi kata/nama menyangkut sekelompok manusia atau Wilayah yang di dominasi oleh sekelompok manusia tersebut. Tetapi, kata Papua itu sudah menjadi “state of mind”.

Jadi Indonesia tidak akan pernah mengindonesiasikan/merubah the mind of Papuans or state of mind of being Papuan.

State of mind ini Indonesia tidak akan pernah kalahkan dengan kekuatan milter, alat alat perang senjata model apapun, project project pembangunan model apapun dan uang nilai triliun pun. Karena di dalam kata Papua itu ada kata ‘ M ‘ dan arti/makna dari kata M itu rakyat Indonesia sudah tahu dan mengerti.

Papua dan M (Merdeka) bebarti bukan Papua dan Indonesia, Kata Papua tidak bisa dapat di definisikan dalam Indonesia. Karena Papua dan Indonesia memiliki mimpi yang berbeda.

Dalam kata Papua itu ada mimpi mimpi dan imaginasi yang belum di manifestasikan tetapi disini sudah ada kepercayaan dan keyakinan bahwa mimpi ini akan di manifestkan suatu saat.

Mimpi dan imaginasi Papua ini tidak akan pernah di rubah dan di hapus oleh Indonesia, America, Ingris, PBB atau Australia dan negara manapun di dunia ini.

“Idonesia bisa membawah manusia Papua keluar dari Papua, tetapi Indonesia tidak akan pernah membawah Papua keluar dari manusia Papua”

karena kata Papua itu sudah menjadi bagian dari DNA orang Papua. Kita sudah tahu bahwa Papua itu bukan Indonesia dan Indonesia itu bukan Papua, jadi Indonesia dengan Papua tidak akan pernah jadi satu. Karena Papua dengan Indonesia itu menikah secara paksa, jadi pernikahan ini tidak pernah damai, solusi terbaik untuk mereka dua ini adalah harus terpisah supaya bisa hidup aman. Mengatur hidupnya masing masing.  

Jadi Indonesa harus sadar dan mengerti bahwa mereka bukan saja melawan OPM TPN, ULMWP, AMP, KNPB dan semua organ organ perjuangan Papua merdeka lain, tetapi yang mereka melawan adalah the mind of Papua, the dream of Papua, the imganization of Papua. Mereka melawan sesuatu yang mereka tidak akan pernah kalahkan melalui kekuatan milter atau senjata.

Untuk melawan kata Papua ini, Indonesia harus melahirkan kata baru denga isi yang sesuai dengan yang sudah ada dalam kata Papua ini. Tetapi kita tahu bahwa Indonesia tidak akan pernah melahirkan suatu kata baru yang bernilainya lebih tinggi dari kata Papua itu, karena Papua itu sudah final untuk Bangsa Papua. Papua berarti Merdeka, bukan Papua dan Indonesia, tetapi Papua dan Merdeka.

Sejarah dan penderitaan Bangsa Papua itu sama dengan sejarah dan perjuangan Bangsa Yahudi. Kata Israel dan kata Yahudi ini bukan saja kata kata yang kita kenal dalam kamus Bahasa dan sejarah menyangkut lokasi, geograpis atau wilayah di Timur tengah. Tetapi kata kata ini sudah menjadi bagian dari ‘state of mind’ untuk bangsa Yahudi. Kata Yahudi itu ideology, kata Israel itu juga ideology, kata Jerusalem itu juga suatu ideology.

Di dalam kata kata ini penuh dengan sejarah penderitaan manusia, perlawanan, kemenangan, kekalahan antara kuasa Iblis dan kuasa Tuhan.

Dalam sejarah Bangsa Yahudi, banyak kerejaan kuno di dunia Timur tengah mencobah untuk memusnakaan mereka, mulai dari Raja Piraon di Mesir, raja Nebukanezar di Babylon, raja Darius di Persia, military general Yunani Alexandar dari Macedonia, kaisar Agustus di Roma, Kerajaan kerajaan Islam dan Kristen dari abad ke abad, Nazi German dan banyak bangsa di dunia ini mencoba untuk menghapuskan kata yahudi, Israel atau Jerusalem.

Tetapi, semua tidak pernah berhasil. Semua gagal. Kota Jeruslame telah dibakar, penduduknya telah di bunuh habis habisan dan di budakan banyak kali dari abad ke bad, tetapi Jersualem, Israel dan Bangsa Yahudi masih ada. Karena ini adalah ideology, perasahaan, pikiran, kepercayaan, keyakinan dan sudah menjadi bagian dari DNA rakyat Bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi bisa kembali mendirikan negara Israel, bisa mengklaim Jerusalem kembali dan tanah Moyang mereka setelah hidup sebagai manusia pengunsi di seluruh dunia lebih dari 2000 tahun setelah Roman general Flavius Titus memusnakaan Bangsa Yahudi dan membakar kota Jerusalem pada abad 70 AD.

Berarti, kata Yahudi, Israel dan Jerusalem ini bukan saja mengenai lokasih dan wilayah. Di dalam kata kata ini ada mimpi, imaginasi, perjanjian, dan  kekuatan yang tidak bisa dapat di musnakan oleh kekuatan militer dan senjata apapun di dunia ini.

Yang menjadi tantangan adalah hanya  waktu saja. Jadi pertanyaan yang tepat bukan ‘Apakah Bangsa Yahudi atau Bangsa Papua bisa merdeka, tetapi KAPAN.

Maka, Indonesia harus sadar bahwa kita Bangsa Papua hanya tunggu waktu untuk merdeka, itu saja. Jadi Kita tidak akan pernah ragu kepercayaan dan keyakinan kita dalam mimpi dan imaginasi Bangsa Papua. Bangsa Papua sudah lahir, kita hanya tunggu untuk pesta kelahiran Bangsa kita dan Indonesia sedang membantu kita melahirkan Bangsa Papua.

Maka rakyat Bangsa Papua, jangan putus asah, jangan kehilangan harapan atau menyerahkan nilai diri Anda dan Bangsamu -Papua kepada Indonesia atau dunia modern.

Mari kita bermimpi dan imaginasikan Bangsa Papua, mari kita menjadi duta besar Bangsa Papua dimana saja kita berada – di kebun, di kantor kantor colonial Indonesia, di jalan jalan activist pemuda dan pemudi Bangsa Papua, di hutang perang gerilyawan, di sekolah, di gereja, di rumah sakit dan dimana saja kita berada.

Bangsa Papua tidak bisa mimpi di dalam mimpi Indonesia, karena Indonesia dan Papua memiliki mimpi yang sangat berbeda. Dulu kan Belanda dan Indonesia memiliki mimpi yang berbeda dan mimpi ini sudah terwujud bagi orang Indonesia. Sekarang kan Indonesia dan Papua mimiliki mimpi yang berbeda dan mimpi Papua ini akan terwujud.
 
Bangsa Papua sudah memiliki lagunya, warna, bendara, symbol negara, pahlawan sejarah, wilayah, Undang Undang Dasar Negara, dan kalender nasionalnya sendiri.

Jadi solusih yang terbaik untuk Indonesia adalah hentikan semua upayah upayah kemunafikan dia untuk mengindonesiasikan Bangsa Papua melalui terror, intimidasi, operasi militer dan pembangunan  karena Indonesia tidak akan pernah berhasil.

Lebih baik Indonesia korbankan dana miliaran yang dia korban untuk menutupi kejahatanya dia di Papua di daerah miskin Indonesia lain seperti di Jawa.

Jadi, dari sini kita Bangsa Papua sudah sadar dan mengerti bahwa Kata Papua itu bukan saja kata yang ada dalam struktur bahasa atau nama wilayah geograpis, tetapi kata Papua itu memiliki nilai yang sangat dalam dan tinggi.

Di dalam kata Papua itu ada banyak suku suku, ada banyak bahasa yang sangat unik, dan ada lagu yang katakan “ Hai Tanahku Papua, Hi Tanah Lahirku, Kau kasih akan dikau, sehingga ajalku”,

Di dalam kata Papua itu ada warna Merah, Biru dan Putih dan Bintang bersinar di dalam warna itu, ada gunung gunung yang penuh dengan kekayaan, ada pasir putih, lautan, sungai sungai dan rawa rawa yang begitu indah, ada mimpi, ada perjanjian dan Bintang Kejora (morning star) harus bersinar lebih terang supaya Indonesia dan dunia bisa lihat jalan yang benar.

Jadi Indonesia dan dunia tidak boleh anggap kata itu Papua remeh, karena Tuhan sudah janji bahwa Papua akan Bangkit dan Bintang Kejora akan bersinar dan semua yang tidak bisa lihat dalam kegelapan akan lihat indahnya Bumi Cenderawasih yang kita bilang Papua.

Dan ini…..sudah pernah di nubuatkan oleh Pdt.  Isaak Samuel Kijne “Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marafiat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri” (Wasior, 25 Oktober 1925).

Comments

comments

Add Comment