Mitos KKSB di Era Modern dan Teknologi Informasi Canggih

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Rakyat yang tidak melek huruf, berpendidikan rendah, mereka selalu menjadi sasaran empuk dan korban dengan mitos-mitos yang dikreasi oleh para kolonial yang dialamatkan kepada rakyat dan bangsa yang diduduki dan dijajah. Dalam buku Syed Hussein Alatas yang berjudul: Mitos Pribumi Malas: Citra Orang Jawa, Melayu dan Filipina Dalam Kapitalisme Kolonial (1988) dapat memberikan gambar jelas tentang watak dan perilaku kolonial.

Alatas dengan cerdas dan tepat dalam buku ini menggambarkan pencitraan yang dibangun oleh para penjajah dengan ideologi penjajahan dan ideologi kapitalisme dengan mitos pribumi malas melalui pernyataan-pernyataan dan lebih dahsyat adalah melalui buku-buku yang ditulis oleh kaum penindas.

Ijinkan penulis untuk mengutip pemikiran pak John Numberi yang disampaikan dalam Grup The Spirit of Papua pada 25 Oktober 2018 jam 12.52PM.

“OTSUS sebagai solusi sementara untuk kita semua. Semoga kita dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun diri dan menyiapkan OAP menjadi tuan di negerinya. Bukan menjadi budak, pemalas, penonton, pemintah-minta di pinggiran jalan seperti hari ini kita lihat. Semoga suara Kenabian Kaka Gembala mengangkat hal ini. Tuhan Berkati.”

Yang penulis kutip di sini ialah “orang Papua bukan menjadi budak, pemalas, penonton, peminta-minta di pinggiran jalan seperti hari ini kita lihat.”

Dalam pangamatannya pak John Numberi, orang Papua sudah menjadi budak, pemalas, penonton, peminta-minta di pinggiran jalan, maka tepatlah mitos-mitos yang biasanya diciptakan para kolonial untuk melumpuhkan dan menghancurkan penduduk yang diduduki dan dijajah. Pandangan seperti ini memperkokoh dan membenarkan bahwa rakyat dan bangsa West Papua sudah tidak berdaya dan sudah menjadi tamu di atas tanah leluhurnya. Itu bukti bahwa para kolonial sudah meraih kemenangan gemilang dan mengkekalkan penjajahannya di West Papua.

2. Pandangan Para Kolonial

Contoh-contoh penulis penjajah yang dikemukakan Alatas seperti: J.S. Vurnivall yang menerbitkan bukunya: “Nentherland India” yang menjelaskan hanya dua belas halaman tentang perlawanan Indonesia, tapi sayang, satupun tidak menyebutkan tokoh-tokoh besar yang dimiliki Indonesia: Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Alimin atau Muso. Furnivall dalam bukunya: “Kolonial Policy and Practice” justru lebih merendahkan nasionalisme Indonesia.

Seorang pelancong Italia dan Doktor Ilmu Hukum, John Francis Gamelli Careri pada 27 Juni 1695 berkunjung ke Malaka dan menulis:

“Malaka kota yang mahal, orang-orang Melayu (Minangkabau) yang Muslim itu adalah para pencuri yang sangat ulung. Mereka adalah musuh Belanda yang garang, yang menolak menjalin hubungan dengan siapa saja, mereka penduduk liar yang hidup seperti binatang…” (hal. 51).

Sementara pengamat dari Belanda Fancois Valentyn pada 1726 menulis sedikit manusiawi dan bermartabat.

“Orang Melayu itu lincah, jenaka, kesombongan diri yang besar, penduduk yang paling cerdik, paling berbakat dan paling sopan santun dari dunia Timur, namun tidak banyak yang dipercaya” (hal. 52).

Adapun seorang Kapten Portugis, Vellez Guirreiro tentang Johore dengan sangat kasar menulis: “orang Melayu adalah orang biadab” (hal. 52). Sedangkan Sir Thomas Stamford Raffles menulis: “orang Melayu tidak memperoleh tingkat pengembangan intelektual yang tinggi. Karakter bangsa Melayu yang relatif primitif dan tak beradab….” (hal. 51).

Lebih lanjut, Raffless menulis: “….kebiasaan orang Melayu adalah sopan, dan jika mereka harus dikatakan orang biadab, namun sebenarnya mereka adalah yang paling beradab diantara seluruh kaum biadab; namun sebenarnya mereka sangat jauh dari menjadi orang biadab…” (hal.57).

Yang lebih manusiawi dan bermoral ditulis oleh Frank Stettenham, Residen Inggris:

“Orang Melayu berkulit sawo matang, agak pendek, gempal dan kuat, berdaya tahan tinggi. Wajahnya, biasanya jujur dan menyenangkan; Ia tersenyum kepada orang lain yang menyapanya sebagai orang yang sederajat. Rambutnya hitam, lebat dan lurus. Hidungnya cenderung agak datar dan lebar pada cupingnya, mulutnya besar; biji matanya hitam pekat dan cerah, bagian putihnya sedikit kebiruan; tulang pipinya biasanya agak menonjol, dagunya persegi, dan giginya sangat putih. Ia diciptakan baik dan bersih, berdiri kuat di atas kakinya, tangkas menggunakan senjata, terampil membuat jala, menggenjot pedal, dan menguasai perahu; biasanya ia perenang dan penyelam yang ahli. Keberaniannya yang baik merata hampir pada semua laki-laki, dan tidak ada sikap budak diantara mereka, hal yang tidak biasa di Timur. Dipihak lain ia cenderung bersikap angkuh, khususnya terhadap orang asing” (hal. 60). Hemat saya, Frank adalah salah satu orang Eropa yang menilai dan menulis tentang orang Melayu, Indonesia dengan pendekatan nurani kemanusiaan.

3. Indonesia dan West Papua

Kini kita semua berada dalam era teknologi dan informasi. Lebih penting ialah era peradaban manusia yang memiliki tingkat rohani, iman dan ilmu pengetahuan yang luas, dalam dan tinggi.

Tetapi, sayang, penguasa Indonesia yang menduduki dan menjajah bangsa West Papus masih berwatak sama seperti para penulis Eropa yang tidak bermoral dan tidak manusiawi yang menilai orang Melayu Indonesia dengan sangat rendah dan menghina.

Rakyat dan bangsa West Papua melalui wadah politiknya United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) sudah berada di forum terhormat di MSG, PIF dan PBB, tapi pemerintah Indonesia masih saja menggunakan cara-cara kuno, usang, dan primitif, yaitu Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB).

3.1. Apakah ini upaya pemerintah dan aparat TNI/Polri untuk membelokkan masalah pokok yang sudah menjadi agenda Internasional?

3.2. Apakah ini upaya penerintah dan aparat TNI/Polri untuk melarikan diri dari kejahatan kemanusiaan selama ini?

Masalah West Papua Hari ini G to G.

Waa….

IWP, 25102018:15:11PM.

Comments

comments

Add Comment