Dr. S.S. Yoman: Lupakan Masa Lalu dan Melihat ke Masa Depan

Oleh Dr. Socratez S.Yoman

1. Pendahuluan

Penulis berusaha menulis artikel dengan topik Lupakan Sejarah Masa Lalu & Melihat Ke Masa Depan untuk melihat dua sisi, yakni sisi positif & negatif.

Positifnya ialah kita tidak berputar-putar dalam sejarah masa lalu & tidak melihat peluang-peluang yang ada untuk masa depan yang lebih baik. Dalam keadaan seperti ini terkuraslah waktu, tenaga, pikiran hanya melihat masa lalu.

Dan dampak dari sisi negatifnya ialah jika sejarah masa lalu tidak dilihat dalam keseimbangan dan perbandingan dengan situasi realitas hari ini, maka kesalahan dan kejahatan yang sama diulang-ulang dan akan menjadi gaya hidup suatu masyakarat dan juga gaya sebuah bangsa. Itu kesalahan vatal dan berdosa karena kita mewariskan anak cucu sejarah yang salah.

1.1. Mengapa sejarah masa lalu penting?

Menurut Dr. N. Hasan Wirajuda Menteri Luar Negeri RI mengemukakan:

“…Kita memang perlu belajar dari masa lalu supaya tidak mengulangi lagi kesalajan masa lalu di masa depan. Pasti berat dan tidak mudah menemukan kebenaran. Tetapi demi masa depan yang lebih baik, proses ini bukan sebuah pilihan melainkan suatu keniscayaan yang harus dilakukan.”

Dr. Ikrar Nusa Bakti menuturkan: “Karena dalam menuliskan dan memahami masa lalu itulah sebuah identitas ditemukan padanannya dan setiap orang bisa belajar darinya.”

Mark Shaw berpendapat: ” Orang yang berkubang dalam masa lalunya akan kehilangan sebelah mata, tapi orang yang melupakan sejarah masa lalunya akan kehilangan kedua sebelah matanya.”

Pdt. Dr. Steven Tong berkhotbah: ” Jika seorang tidak pernah mempelajari sejarah, maka ia tidak akan pernah mengetahui asal usul dan akar sesungguhnya bagi dirinya sendiri.”

Will Durant meyakini: ” Kehilangan sejarah berarti kehilangan identitas.”

Dr. Terry B. Walling mengimani: ” Informasi yang terbaik tentang masa depan adalah sejarah masa lalu, memberikan kepastian dan harapan yang lebih besar.”

Dr. Ben Carson mempercayai: “Mempelajari suatu bangsa berarti mengingat masa lalu, menata masa sekarang dan menentukan masa depan yang akan lebih baik.”

Elie Wiesel: ” Kekuatan kita ialah mengingat budaya kita, masa lalu kita yang positif untuk dipelihara dan dikembangkan,serta masa lalu yang buruk supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.”

(Lebih lengkap bisa dibaca dalam Sumber: Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat: Yoman: 2007, hal. 69-71). Bukunya sedang dijual: di TB Undewerek di Lantai 2 Airport Sentani dan TB Undewerek Jln. Tabi-Bhayangkara-Kotaraja.

1. 2. ABRI/TNI Membakar buku-buku Sejarah West Papua.

Pada waktu Indonesia merampok, menduduki dan menjajah bangsa West Papua, ABRI (kini: TNI/Polri) selain membantai manusia, mereka juga dengan keras dan gencar memusnahkan semua buku-buku dan simbol-simbol tentang rakyat dan bangsa West Papua.

Tidaklah heran, perlakuan tidak beradab dan kejam seperti ini memang watak dan perilaku kolonial. Indonesia sejak awal sudah hadir sebagai penjajah di West Papua. Pelurusan sejarah dilarang dan bagi mereka yang berbicara sejarah dibungkam dan dibantai.

Contohnya, pada 12 Mei 2007, DANREM 172/PWY Kol. Kav. Burhanuddin Siagian memberikan ancaman.

“Pengkhianat Negara Harus Ditumpas. Jika saya temukan ada oknum-oknum orang yang sudah menikmati fasilitas Negara, tetapi masih saja mengkhianati bangsa, maka terus terang saya akan tumpas. Tidak usah demonstrasi-demonstrasi… Jangan lagi mengungkit-ukit sejarah masa lalu.” ( Yoman: hal 245 dalam buku Permusnahan Etnis Melanesia).

Kalimat “Jangan lagi mengungkit-ungkit sejarah masa lalu” ialah bagian dari ketakutan Negara dan TNI dalam mombongkar borok dan sejarah kelam dalam proses Pepera 1969 yang dilakukan ABRI.

Pada 1 Juni 2006 jam 9:30 pagi, di ruang Lobby Hotel Yasmin Jayapura, HS Hikam, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, pernah mengatakan kepada penulis:

“Orang Papua lupakan saja sejarah, karena siapa yang mau dipersalahkan, kita harus melihat masa depan bukan melihat ke belakang.”

Dalam pikiran penulis muncul pemikinan dan pertanyaan. Kalau begitu, Indonesia lupakan saja sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan tidak usah diajar di sekolah-sekolah. Tidak usah memperingati 17 Agustus 1945. Tidak usah mengheningkan cipta untuk mengingat para pahlawan nasional. Memang, para kolonial selalu tampil sebagai pihak yang benar dan memaksakan bangsa yang diduduki dan dijajah harus menerima semua milik dan asal dari penjajah. Memaksa untuk melupakan sejarah merupakan penjajahan dan pembunuhan sensungguhnya dan sebenarnya sebuah bangsa di bumi ini.

2. Bangsa West Papua yang sudah dilumpuhkan.

Pada bagian ini, penulis mengajukan beberapa pertanyaan kritis dan juga kunci untuk Anda jawab sendiri.

2.1. Apakah para Sarjana/Intelektual West Papua dari Sorong-Merauke masih ada hati nurani atau hati nurani sudah dilumpuhkan dan ikut memperjuangkan untuk hilangkan sejarah rakyat dan bangsa West Papua?

2.2. Dimanakah posisi para sarjana, intelektual dan ilmuwan dalam kondisi ketidakpastian peradaban sejarah dan masa depan bangsa West Papua dalam sistim kolonialisme Indonesia yang kejam dan tidak manusiawi seperti ini?

2.3. Apakah kita hanya kumpulan manusia yang tidak punya martabat dan harga diri yang sedang menonton dan menyaksikan dengan kedua mata terbuka dan melihat bangsa kita dibantai, sejarah kita dihancurkan dan tanah kita dirampok oleh para kolonial Indonesia?

“…Setiap dusta harus dilawan. Menang atau kalah. Lebih-lebih dusta yang mengandung penindasa. …Bagaimana pun bodoh dan primitifnya suatu bangsa, ia akan bertumbuh, berkembang dan memiliki naluri mempertahankan hidup”

( dikutip dari Mayon Sutrisno: Arus Soekarno: Roman Zaman Pergerakan, 1985/2002, hal. 122).

Doa dan harapan penulis ada pencerahan dan kesadaran.

Waa…Kinaonak. Togop aret.

Ita Wakhu Purom, 27 Oktober 2018;09:26AM

Sumber : Facebook Page

Add Comment