Devio dan Finsen keliling kota pakai Koteka, bukan untuk rayakan HUT RI

Category: MADAT 10 0
Aksi Devio Bastian Tekege dan Finsen Pokowai kembali mengenakan busana daerah Papua (Suku Mee) -(Jubi Doc).
Aksi Devio Bastian Tekege dan Finsen Pokowai kembali mengenakan busana daerah Papua (Suku Mee) -(Jubi Doc).

Jayapura, Jubi – Jumat lalu, tepat pada 17 Agustus, Devio Bastian Tekege, mahasiswa Teknik Elektro Universitas Cenderawasih, kembali mengenakan Koteka, busana adat Suku Mee. Kali ini, Devio beraksi bersama seorang temannya, Finsen Pokoway. Dua orang itu pakai Koteka, bukan untuk memeringati hari kemerdekaan RI.

Pada Jumat pagi sekitar pukul 09.15 WP Devio dan Vinsen berangkat dari asrama menuju lingkaran Abepura untuk membeli koran.

Dalam perjalanan, keduanya  bertemu dengan adik tingkat mereka, namanya Robby, dari Teknik Mesin Uncen angkatan 2017.

Robby menyapa mereka dan bertanya “Kaka dong ada kegiatan apa?”, “Ah tidak, saya cuma mau pake begini, karena saya rasa kita sebagai orang Papua kita tunjukkan budaya, bukan hanya di tempat atau kegiatan  tertentu saja”, kata Iki Pekey, rekan Devio dan Finsen yang menjadi penanggung jawab aksi itu kepada Jubi, Minggu (18/8/2018).

Aksi serupa, juga pernah dilakukan Devio beberapa waktu lalu. Pekey mengatakan, sebagian orang Papua, masih beranggapan bahwa pakaian adat hanya bisa dipakai sewaktu-waktu saja, misalkan pada acara adat.

“Budaya pakai baju adat ini sudah semakin hilang dan anak-anak muda sekarang juga malas memakai Koteka, karena takut. Tidak tahu kenapa? ada apa?. Mungkin karena kebiasaan kapitalistis, maksudnya budaya luar yang masuk ke dalam,” katanya.

Lanjut Iki Pekey, pada pukul 09.40 WP, setelah bertemu dan bercakap-cakap dengan Robby, Devio dan Finsen melanjutkan perjalanan. Sampai di depan auditorium Uncen, mereka bertemu dengan seorang ade perempuan bersama kedua orang tuanya. Ade perempuan itu juga memakai busana daerah .

“Ia meminta foto bersama dengan Devio dan Finsen. Devio dan Finsen tidak menolak permintaannya, karena ade perempuan itu juga menggunakan Moge, busana adat Papua untuk perempuan . Ada juga orang lain yang meminta foto, tetapi Devio dan Finsen menolaknya. Karena mereka telah berkomitmen bahwa mereka tidak akan berfoto dengan orang lain yang meminta berfoto apabila tidak menggunakan busana daerah,” katanya.

Devio dan Finsen lantas menuju jalan Biak. Mereka singgah beli pinang di Mama Lince. Setelah itu merekapun pulang ke asrama Mahasiswa Katolik Tauboria, Padang Bulan Atas, tempat mereka tinggal.

“Saya merasa bangga ketika memakai budaya Koteka tetap ada, pada saat saya memakai budaya saya sendiri, saya merasa saya bebas tidak terikat dengan pikiran-pikiran negatif,” kata Finsen Pokoay, .

“Saat saya memakai pakaian adat saya, saya merasa biasa. Pakaian adat bukan saja dipakai di tempat-tempat khusus tetapi juga kita pakai juga di tempat-tempat umum dan juga dapat dilestarikan dimana pun dan kapan pun saja. Itu identitas orang Papua ”, katanya.

Sementara itu, Devio Tekege mengatakan, mereka mengenakan pakaian adat untuk menyadarkan setiap orang Papua bahwa identitas orang Papua yang semakin hilang. “Oleh karena arus globalisasi dan modernisasi, ” katanya.(*)

Comments

comments

Related Articles

Add Comment