Aparat gabungan gagalkan pelantikan Panglima TRWP di Yalimo

Kapolres, Dandim dan Danyon saat memberikan keterangan pers di Mapolres Jayawijaya-Jubi/Islami
Kapolres, Dandim dan Danyon saat memberikan keterangan pers di Mapolres Jayawijaya-Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Aparat gabungan TNI /Polri, menggagalkan prosesi pelantikan Panglima Komando Pusat Tentara Revolusi West Papua (TRWP) di kampung Alibarek, Distrik Abenaho, Kabupaten Yalimo, Jumat (31/8/2018).

Dalam penggerebekan tersebut, polisi berhasil mengamankan tiga orang pimpinan dari kelompok Kordap XI Yali berinisial SA (Panglima), DY (Sekretaris), IK (Humas) serta mengambil keterangan dari 240 warga yang mengikuti acara tersebut. Warga hanya diberi arahan dan dipulangkan kembali.

Aparat menyebut, acara pelantikan itu beragendakan penyerahan SK Kordap XI Yali dan pelantikan Recuit Markas Kordap XI Yali.

Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba saat jumpa pers bersama Dandim 1702/Jayawijaya dan Danyon 756/Wimane Sili, mengungkapkan, tiga orang yang diamankan ini merupakan pemimpin dari TRWP wilayah Yalimo. Mereka menggelar upacara dan mengibarkan Bintang Kejora sekaligus melantik Panglima Kordap XI Wilayah Yalimo.

“Selain pimpinan yang diamankan, 240 personil mereka telah mengikuti latihan militer selama seminggu, pelatihan militer ini juga akan dilakukan di wilayah Kabupaten Yahukimo dan Pegunungan Bintang, sehingga ini menjadi pilot project yang dilakukan sebelum berpindah ke daerah lain,” katanya di Mapolres Jayawijaya, Jumat (31/8/2018).

Adapun barang bukti yang diamankan satu buah Bendera Bintang Fajar,dua stempel/cap, dua laptop, satu kamera, dokumen, pisau dan seragam loreng.

“TNI dan Polri tak mencari masalah, namun karena kewajiban untuk melindungi masyarakat yang merasa resah dengan tindakan yang dilakukan kelompok ini. Karena, memang sebelumnya ada laporan masyarakat,” ujar dia.

“Jangan lagi ada yang mempolitisir masalah ini, menyebut TNI dan Polri arogan, kami melakukan tugas melindungi dan melayani masyarakat menjaga keamanan kantibmas, saya yakin 240 warga yang direkut juga dipaksa untuk ikut,” katanya.

Damdim 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Lukas Sadipun menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberitahukan keberadaan kelompok tersebut, sehingga saat penangkapan tidak ada kekerasan dan semua berjalan dengan persuasif.

“Saat ini masyarakat sudah merasakan efek dari pembangunan dan juga melihat kegiatan seperti ini memberikan dampak yang tak baik bagi generasi muda, kami akui latihan yang dilakukan sudah seminggu dan kami tidak tahu, jika tidak ada masyarakat yang melaporkan,” kata dia. (*)

Comments

comments

Add Comment