ULMWP : TPN PB dan aparat keamanan Indonesia tak boleh korbankan warga sipi

Posisi Kampung Alguru yang berseberangan dengan Bandar Udara Keneyam, Nduga - Foto Satelit
Posisi Kampung Alguru yang berseberangan dengan Bandar Udara Keneyam, Nduga – Foto Satelit

Jayapura, Jubi – United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) mempertanyakan tindakan aparat keamanan (TNI dan Polri) yang masih saja menggunakan kekuatan berlebihan dalam menangani konflik bersenjata yang terjadi di Papua.

“Setelah hampir enam puluh tahun pendudukan dan dua puluh tahun demokrasi mengapa Indonesia masih saja melancarkan perang terhadap orang-orang yang dianggap sebagai warganya sendiri?” tanya Jacob Rumbiak, juru bicara ULMWP melalui sambungan telepon, Senin (16/7/2018).

BACA Bupati Nduga : Saya minta warga tidak lari sembunyi ke hutan

Pertanyaan juru bicara ULMWP ini ditujukan pada insiden penyisiran yang terjadi di Keneyam, Kabupaten Nduga, Rabu pekan lalu.

Menurut Rumbiak, di kabupaten seperti Nduga yang terletak di pedalaman yang terisolir, apakah perlu menggunakan serangan dari udara yang notebene bisa mengakibatkan warga sipil menjadi korban.

Ia menegaskan kelompok bersenjata yang disebut-sebut sebagai pelaku kekerasan di Keneyam, Nduga beberapa hari menjelang dilaksanakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB).

“Mereka adalah TPN PB yang berkewajiban untuk membela dan melindungi tanah dan rakyat West Papua,” ungkap Rumbiak.

BACA Kapolda : Di Nduga tidak ada operasi militer, namun operasi penegakan hukum

Ia mengaku telah mendapatkan konfirmasi tentang aktifitas kelompok yang disebut oleh aparat keamanan sebagai Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) ini.

“Jika aparat keamanan mengejar TPN PB, silahkan saja. Itu menjadi sebuah perang antara TPN PB dengan TNI dan Polri yang tidak boleh korbankan warga sipil. TPN PB dan aparat keamanan Indonesia tak boleh korbankan warga sipil,” ujar Rumbiak.

Aparat keamanan Indonesia, seperti disampaikan oleh Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi membantah menembaki warga sipil dalam pengejaran kelompok bersenjata di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

“Aparat keamanan itu selalu membalas tembakan dari arah tembakan itu berasal. Kejadian terakhir pada 11 Juli lalu, saat satu buah helikopter milik polisi melakukan pendistribusian logistik dari Timika ke Kenyam, mendapatkan serangan tembakan dari arah Aluguru,” jelas Kolonel Inf Muhammad Aidi.

BACA : Klasis Kingmi Keneyam: Tiga orang meninggal paska penyisiran aparat keamanan

Ia juga menegaskan tidak ada penggunaan helikopter milik TNI saat insiden penyisiran tanggal 11 Juli, melainkan heliopter milik kepolisian yang digunakan mengangkut logistik dari Timika ke Keneyam. (*)

Comments

comments

Add Comment