Koteka menentang budaya asing

Oleh Soleman Itlay, TabloidJubi

Mahasiswa berbusana koteka, Divio Tekege di ruang kuliahnya – Dok. Jubi
Mahasiswa berbusana koteka, Divio Tekege di ruang kuliahnya – Dok. Jubi

Hoseri Edowai dan Edeweriknak Arabo pertama kali mengikuti perkulihan di Umel Mandiri Jayapura dengan busana koteka. Sedangkan Albertus Yatipai dan Yantus Elopere mengikuti ujian akhir semester (UAS) di USTJ dengan mengenakan koteka. Mereka tampil di tengah derasnya arus globalisasi. Menentang ancaman kebudayaan Papua.

Mereka berempat, sungguh menarik perhatian orang di tengah kesibukan. Penampilan mereka di ujung Mei ini seperti magnet. Menarik pandangan semua orang. Mengetuk mata, hati, dan pikiran semua orang yang nyaris “lupa” akan kebudayaan sendiri. Mereka menghentikan aktivitas sejenak. Membuat ribuan mata tertuju pada mereka.

Mengingatkan orang untuk kembali melihat budaya hidup. Mengajak orang untuk merenungkan akan nasib kebudayaan terkini. Mengarahkan orang untuk memastikan letak ancaman kebudayaan di tanah air. Mereka bergerak untuk membuat semua orang berpikir untuk melawan tawaran budaya ala barat (Eropa) dan Melayu.

Mereka ingin mengajak semua orang mengakui apa yang telah ada, terutama nilai-nilai kearifan lokal yang diberikan oleh Tuhan. Empat tunas harapan ini mengugah jiwa raga kita untuk meletakkan kehidupan di atas kebudayaan. Karena mereka lihat kita semua sudah terpengaruh dengan produk budaya luar yang meregang moral dan spritualitas kita.

Pro dan kontra

Meski demikian, mereka ini tidak tenang karena beberapa jam kemudian menjadi bahan perdebatan. Ada kelompok yang memberikan apresiasi tinggi atas keberanian mereka di kampus. Tapi juga ada yang memberikan komentar miring, seperti “memalukan, primitif, ketinggalan zaman, memancing hawa nafsu perempuan, dan mencuri aura seks bagi kaum hawa”.

Hingga saat ini, “aksi mahasiswa pakai koteka masuk kampus” menjadi opini publik. Di media sosial yang berbasis Youtube, Facebook, Instagram, Twiter, dan Whatsapp terdengar masih diperbincangkan. Tentunya, aksi mereka menjadi informasi yang dapat dikonsumsi oleh dunia, karena ribuan orang dari belahan bumi telah menonton dan memberikan respek beragam pula.

Bagi yang setuju, aksi mereka ini disambut dengan baik. Kelompok pro ini berasal berbagai latar belakang suku, bahasa, adat istiadat, wilayah, instansi pemerintah, LSM organisasi agama, dll. Mereka memberikan apresiasi kepada anak-anak ini berupa ucapan terima kasih dan penghormatan mulia. Hal itu mereka lakukan, karena keempat mahasiwa ini rupanya menyadarkan secara tidak langsung.

Di samping itu, ada juga kelompok kontra tadi. Mereka berpendapat, aksi koteka masuk kampus itu memalukan. Karena mereka minilai gerakan itu memperlihatkan alat kelamin di muka umum. Bagi mereka hal itu tidak pantas  dipertunjukan di dunia publik, termasuk di dunia kampus. Bakal di dalam komentar-komentar di medsos menyebutkan, bahwa hal itu tidak perlu dilakukan.

Karena dinilai mengandung unsur seksisme dan pornografi, mereka katakan lagi, aksi ini menunjukkan ketertinggalan zaman orang Papua. Mereka mengecam anak-anak ini karena dirasa memalukan dan dianggap mudah mempengaruhi aktivitas orang lain. Sampai-sampai ada yang tega mengatakan, kalau mau pakai (sedianya) buat iven seperti festival budaya. Jangan mengenakannya di hari dan waktu ujian itu memalukan.

Cara dosen membunuh psikologi mahasiswa

Pernyataan ini tidak kalah jauh dengan seorang dosen yang menegur Devio Tekege, yang juga menggenakan koteka lalu ikut ujian akhiir semester di Universitas Cenderawasih (Uncen). Dosennya memanggil Devio dan menegurnya. Katanya, Devio melanggar aturan kampus. Dosen elektro yang mengambil judul tesis tentang kebudayaan Papua itu mengancam Devio akan mengeluarkannya dari kampus.

“Devio, kamu ini bikin malu. Kamu melanggar aturan kampus. Kamu pakai koteka begini, menganggu mahasiswa dan dosen di kampus. Kamu kalau mau pakai busana adat, adakan festival budaya lalu pergi ikut di sana. Kalau kamu tidak mau ubah dan tidak mau dengar, nanti saya kasih pecat di kampus,” tutur Devio meniru perkataan dosennya itu.

Devio mengaku ingin menanyakan aturan kampus yang menurut dosennya sebagai pelanggaran aturan kampus tadi. Namun ia tidak berani sebab si dosen menekannya secara psikologis. Kesempatan lain Devio menjelaskan di kampus tidak ada aturan atau kode etik yang melarang mahasiswa memakai koteka. Kalau ada, dirinya tidak akan berani mengenakan koteka, kemudian masuk ikut UAS.

Letak perspektif negative

Sekarang kita perlu melakukan pemetaan pikiran, respons, tanggapan, dan komentar miring. Mereka yang pro adalah kelompok yang menghargai budaya, seperti budayawan bilang: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya”. Tetapi mereka yang kontra adalah mereka yang tidak tahu diri, tidak sadar akan kepunahan budaya dan identitas.

Bagi yang respons positif tidak perlu diberi komentar di sini.  Namun kalian yang mengatakan hal itu “memalukan, primitif, ketinggalan zaman, dll.” perlu diingat bahwa kalian adalah kelompok yang sudah tidak bisa diandalkan. Anda telah menyangkal budaya sendiri dan Papua. Anda telah ikut membunuh nila-nilai kearifan lokal.

Koteka dan kesadaran 

Pada dasarnya mereka yang memakai koteka bukan orang gila atau mabuk. Mereka mempunyai akal sehat dan kesadaran seperti orang lain. Mereka memang pakai koteka tetapi tidak menganggu “kamu” yang berpendapat dangkal. Tidak juga menganggu perempuan di jalanan, kampus, dan tempat lain.

Anda boleh mempersoalkanya. Tetapi ingat, tidak ada sejarah atau peristiwa yang menyebutkan, bahwa orang yang mengenakan koteka itu biasa mengejar perempuan atau orang sembarang. Kalau Anda mendengar cerita seperti itu, tidak dapat dibenarkan. Karena memang tidak ada dan tidak bisa dibuktikan.

Tetapi kalau Anda masih mempersoalkannya terus-menerus, berarti Anda punya motivasi lain. Apalagi kalau Anda masih mempertahankan argumen yang melecehkan tadi, maka Anda benar-benar  salah dan mungkin Anda masuk di dalam golongan orang tidak waras. Mungkin bisa juga Anda katakan itu, karena kurang memiliki pengetahuan tentang koteka.

Koteka bukan busana baru di Papua

Sebelum memberi penilaian dan komentar, perlu dipertanyakan asal-usul dan nilainya lebih dahulu. Hal ini sangat penting bagi kita-kita yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sangat dangkal tentang koteka. Supaya orang yang berpengetahuan tidak menyebutkan kita “kaum yang tidak tahu diri dan tidak mengenal budaya kaum pribumi”.

Koteka di Papua bukan sesuatu yang baru. Barang ini memiliki dasar sejarah yang sangat jelas sejak orang Papua menempati negeri ini. Koteka menjadi alat tradisional. Bertahun-tahun lamanya menjadi penganti pakaian (celana) bagi kaum adam berkulit hitam. Alat ini digunakan untuk menutupi alat kelamin kaum pria yang berambut keriting.

Tidak hanya itu, busana ini juga memiliki nilai budaya yang tidak kalah menarik dengan suku bangsa lain. Nilainya amat melekat dengan simbol-simbol budaya. Bagi orang Papua ini suatu identitas yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan memiliki kehendak misteri. Maaf, Anda tidak bisa membantah.

Koteka dan kehendak misteri Allah

Silahkan Anda memberikan komentar miring. Tetapi Anda perlu tahu, bahwa Yang Esa tidak asal memberikan kepada kaum yang negerinya kaya raya tapi orangnya miskin, menderita, kelaparan, serta hidupnya ibarat dalam tekanan kebiadaban singa, harimau, dan serigala. Ia memberikan busana itu dengan makna sejarah, nilai, dan manfaat sesesuai rancangan-Nya.

Ia pun telah memberikan cara dan teknik yang khas untuk orang berkoteka. Tuhan kita, menurut kehendak-Nya yang indah sudah memberikan dengan bekal hikmat dan pengetahuan. Tapi juga dengan kode etik dan nilai estetika. Kehendak Tuhan itu bisa dilihat dari setiap proses. Itu mulai dari Tuhan kasih cara tanam, mengeringkan, merancang, dan menggenakan di muka umum.

Tetapi kalau ada yang katakan memakai koteka bikin malu, hilangkan. Itu menentang kehendak Allah. Kita tidak bisa mengatakan kalian yang pakai koteka itu memalukan saja. Namun kalau kita berani, lebih baik bertanya kepada Allah Sumber Koteka. Bertanya, mengapa Tuhan menghendaki orang gunung mengenakan koteka?

Koteka kekayaan budaya di dunia

Koteka memiliki manfaat yang cukup besar. Alat penganti celana ini menyumbangkan kekayaan tradisional dan budaya bagi dunia. Untuk Indonesia, koteka membuatnya unik. Bagi orang Papua, koteka memberikan semangat dan spritualitas hidup. Koteka dapat menyadarkan orang Papua sebagai bangsa dan ras tersendiri.

Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri. Bahwa koteka mampu melahirkan generasi emas di bumi Papua. Percaya atau tidak, mereka kelak akan menyumbangkan pemikiran-pemikiran cemerlang. Generasi koteka juga mampu menyumbangkan pemikiran dan konsep perjuangan dan pergerakan untuk perdamaian di dunia.

Koteka bagi dunia amat penting. Dengan begitu membantu orang lain untuk mengetahui dan membedakan satu suku dengan yang lain. Koteka menjadi salah satu syarat untuk orang dapat mengetahui selain bahasa, alat tradisional dan wilayah. Sekarang saja orang sudah tahu. Kalau jalan dengan koteka itu, pasti orang akan berkata dia orang gunung.

Ingat, koteka dan orang Papua (gunung) tidak bisa dipisahkan. Kau yang asli dan lahir besar harus mengakui koteka sebagai kekayaan budaya Papua. Tolong, menghormati koteka sebagai simbol identitas orang asli Papua. Kau yang baru datang mana-mana, mengakui dan menghormati segala sesuatu yang ada.

Karena sebelum ada segala sesuatu yang baru, koteka dan manusia Papua telah ada. Jadi, sekarang tidak perlu perdebatkan soal koteka lagi. Hal paling penting yang kita perlu lakukan bersama adalah menyangkal dan melawan segala produk budaya luar yang merusak budaya asli kita di sini.

Kita harus berpikir dan berdiri di atas pola pikir orang asli Papua yang sebenarnya. Jangan ikut-ikutan. Teman-teman yang dari luar juga jangan turut mengembangkan budaya ala Eropa dan Melayu, karena itu bisa saja merusak moralitas dan spritualis kita sekalian di Papua jika tidak selektif. Kalau kita mencitai tanah kelahiran dan manusia Papua, kita kembangkan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di “Rumah Kita Papua”. (*)

Penulis adalah anggota aktif Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Efrem Jayapura, Papua.

Comments

comments

One thought on “Koteka menentang budaya asing

  1. mnews

    Kami berdoa kepada Tuhan pencipta bangsa Papua kiranya memberikan inspirasi kepada banyak Pemuda Papua untuk kembali kepada identitasnya sebagai orang Papua ras Melanesia. Englkau berkati anak-anak kami yang sudah melek adat ini, sehingga mereka menjadi berkat bagi sanak-keluarga dan tanah – bangsa mereka.

Add Comment