Seniman Papua kritik penyelenggaraan Festival Danau Sentani

Salah satu tarian tradisi dari Kampung Asei yang dibawakan pada pembukaan acara FDS - Jubi / Engel Wally
Salah satu tarian tradisi dari Kampung Asei yang dibawakan pada pembukaan acara FDS – Jubi / Engel Wally

Sentani, Jubi – Festival Danau Sentani (FDS)  resmi dibuka pada 19 hingga 23 Juni 2018 di Khalkote, tepian Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. Sayangnya, penyelenggaraan FDS tahun ini mendapat kritik tajam dari kalangan seniman di Papua. Seniman senior Papua Yohanes Theodorus Yepese misalnya, mengkritik penyelenggaraan FDS yang dianggap tak ada kemajuan.

Menurutnya, FDS tahun ini sama sekali tak lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Yepese mengatakan, seharusnya panitia penyelenggara banyak melibatkan masyarakat lokal dalam festival tahunan ini.

“FDS tahun lalu masih bagus dibandingkan tahun ini,” jelas Theo Yepese sapaan akrabnya saat ditemui di Kawasan Pantai Khalkote Kampung Harapan, Distrik Sentani Timur, Rabu (20/6/2018).

Menurut Yohanes, penyelenggaraan FDS sejauh ini hanya melihat dari aspek bisnis saja. Padahal tujuan FDS sejatinya memperkenalkan berbagai budaya khas yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat kepada dunia. Ia menyayangkan pihak penyelenggara yang kurang mampu mengakomodir masyarakat lokal sehingga FDS terkesan hanya seremonial.

“Kita sepakat dengan pihak ketiga yang mengurus FDS, tetapi pihak ketiga juga ada banyak kekurangan. FDS yang akan datang kalau bisa diberikan tanggung jawab kepada anak-anak negeri ini untuk mengurusnya, FDS ini untuk siapa?” katanya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat Alberth Yoku mengatakan, penyelenggaraan FDS saat ini harus ditangani langsung oleh penyelenggara yang profesional. Namun, Ia mengingatkan agar penyelenggara tetap melibatkan unsur masyarakat adat, agar esensi penyelenggaraan FDS bisa dirasakan juga oleh warga Papua.

Apalagi mengingat banyaknya potensi sumber daya yang dimiliki oleh kampung – kampung di Papua. Yoku yakin, FDS mampu menjadi magnet wisatawan untuk datang berkunjung.

“Sistemnya harus diubah. Sekarang masyarakat yang harus punya inisiatif, kemudian Pemerintah yang akan membantu mengembangkan,” tukasnya. (*)

Comments

comments

Add Comment