Perang antarsuku di Tari mereda

Category: PNG Highlands 10 0
Kota Tari telah berubah menjadi lokasi peperangan dengan sekitar 20 orang dilaporkan tewas sejak Maret. - RNZI / Johnny Blades
Kota Tari telah berubah menjadi lokasi peperangan dengan sekitar 20 orang dilaporkan tewas sejak Maret. – RNZI / Johnny Blades

Tari, Jubi – Pertikaian antarsuku di ibukota Provinsi Hela Papua Nugini telah mereda selama satu atau dua minggu terakhir, kata polisi.

Kota Tari telah berubah menjadi titik peperangan mematikan, dengan sekitar 20 orang dilaporkan tewas sejak Maret di daerah perkotaan dan sekitarnya.

Bulan lalu, polisi di Hela mengadakan pembicaraan damai antara suku-suku yang terlibat dalam peperangan, memulai proses mediasi yang masih berlangsung sekarang, dan berhasil memadamkan api kekerasan di antara kelompok-kelompok itu.

Namun Komandan Polisi di Tari, Thomas Levongo, menegaskan bahwa tidak ada jaminan perselisihan tidak akan terulang kembali.

“Untuk sementara ini, perang suku di Tari telah mereda,” kata Levongo. Tapi kalian sudah tahu bagaimana situasi di Tari, kita masih berjaga-jaga dan mengantisipasikan yang tidak terduga. Jadi sekarang, pada saat ini keadaan masih tenang, tapi saya tidak tahu, apa pun bisa terjadi kapan saja.”

Sementara itu, suasana tegang semakin mencekam di sekitar proyek gas LNG di Hela minggu ini, setelah terjadi vandalisme atas peralatan milik proyek itu di Angore.

Vandalisme itu dilakukan oleh sekelompok pemilik tanah yang merasa frustrasi, karena tidak kunjung menerima pembayaran royalti proyek yang sudah dijanjikan. Mereka juga memblokir jalan akses utama dan landasan udara.

Post Courier melaporkan bahwa Wakil Perdana Menteri Charles Abel, yang juga pejabat Plt PM PNG sementara O’Neill berkunjung ke Tiongkok, telah menyatakan komitmen penuh negara atas kesepakatan mereka dengan para pemilik tanah.

“Kekerasan bukan jalan keluarnya, kadang-kadang kita melukai diri kita sendiri, ketika kita menyerang badan-badan yang mencoba membantu kita.”

“Masyarakat ini adalah orang-orang kita sendiri, bukan orang asing, mereka orang PNG dan kita harus bekerja sama dengan mereka untuk menyelesaikan masalah ini, dan memastikan bahwa semua isu mereka didengarkan.“ (RNZI)

Comments

comments

Add Comment