Penjual kerajinan tangan di Festival Danau Sentani

Category: Ekonomi dan Bisnis 3 0
Dorkas Ayomi Fingkreuw di stan bunga hasil kerajinan tangannya – Jubi/Yance Wenda
Dorkas Ayomi Fingkreuw di stan bunga hasil kerajinan tangannya – Jubi/Yance Wenda

FESTIVAL Danau Sentani (FDS) yang digelar di Khalkote, Distrik Sentani Timur setiap tahun pada Juni selalu dimanfaatkan pedagang kecil untuk berjualan.

Demikian juga pada FDS 2018. Banyak pedagang lokal, terlebih Mama-Mama Papua, berjualan aneka kerajinan tangan, pakaian, dan makanan atau minuman.

Dorkas Ayomi Fingkreuw, 64 tahun, di antaranya. Perempua asal Wondama tersebut terlihat di salah satu stan pagi itu duduk di kursi plastik sambil menempel bunga–bunga pada lidi-lidi yang berdiri lurus.

“Saya sudah berjualan sejak FDS ini pertama kali dimulai hingga saat ini, Mama hanya berjualan Pakis Papua hasil kerajinan tangan yang Mama buat, Mama ambil bahannya dari hutan punya,” katanya kepada Jubi, Kamis, 21 Juni 2018.

Fingkreuw mengatakan tidak pernah terpikir untuk berjualan yang lain, karena apa yang ia buat tersebut bukan dari hasil tempat pelatihan-pelatihan, melainkan ia yakini sebagai hikmah dari Tuhan sehingga ia bisa membuatnya.

“Kami kerja ada dua orang, Mama dengan Mama punya teman dan teman dia berjualan di sebelah, kami mau kerjakan ini itu dalam satu minggu dua kali kami kerja dan kerja ini harus tenang dan sabar,” ujarnya.

Kerajinan yang ia buat hanya mengisi waktu kosongnya sambil santai. Hasil kerajinan tersebut ia jual hanya pada even-even besar seperti FDS.

“Usaha ini kalau Mama rajin bisa buat lumayan banyak, soalnya Mama sudah tua begini jadi, untuk mendatangkan bahan-bahannya itu Mama minta bantu anak-anak muda baru Mama kasih uang ke anak-anak mereka,” katanya.

Bahan-bahan yang ia gunakan untuk membuat hiasan tersebut adalah bahan alami seperti ranting bambu, buah sagu, lidi pohon kelapa, buah pinang, rumput, serta pohon-pohon lainnya. Selain itu ada bunga yang dibuat dari sabun mandi dan kantong plastik.

“Tahun-tahun sebelumnya memang ramai yang mengunjungi stan Mama, tapi sekarang Mama sakit jadi bikin tiap hari susah, padahal dulu Mama panen sampai lima dalam sehari sehingga dapat Rp 2 juta,” ujarnya.

Menurut Fingkreuw, biasanya hari pertama pengunjung hanya lewat atau singgah sebentar untuk bertanya-tanya. Tapi pada hari terakhir pasti akan ramai datang membeli.

“Nanti ada yang datang pesan dua-tiga hari baru datang ambil, ada juga yang nanti pas hari terakhir mau pulang baru dong bawa,” ucap ibu lima anak ini.

Selain menjual kerajinannya di FDS dan pameran lainnya, pembeli juga ada yang datang memesan ke rumah Mama Fingkreuw. Ia memiliki nomor ponsel untuk dihubungi. Selain itu ia tidak menjual kerajinannya di tempat lain, seperti pasar atau memiliki kedai.

Fingkreuw sudah 11 tahun menekuni pekerjaannya secara otodidak. Selain mengambil bahan-bahan alami yang cukup berlimpah di sekitar rumahnya dekat gunung, ia juga perlu alat-alat pabrikan. Dengan modal Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, ia membeli lem, vernis, pelitur, pewarna, dan alat lainnya.

Harga kerajinannya relative murah, yaitu Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Bahkan pada hari terakhir jika ada yang menawar Rp 20 ribu juga ia jual. Hasil penjualannya ia gunakan untuk kebutuhan hidup dan keperluan sekolah anak-anaknya.

Sebenarnya cukup banyak yang memesan kerajinannya untuk dimasukan ke galeri-galeri. Tapi karena faktor usianya yang sudah tua, ia mengakui semangatnya tidak seperti waktu muda.

“Mau kerja saja susah, Mama hanya hari Sabtu masuk hutan cari bahan-bahan, kumpul, baru Mama bikin baru jual, kalo Mama masih muda itu tiap hari Mama masuk keluar hutan,” katanya.

Penjual kerajinan lainnya di FDS adalah Agustina Maitindom, 53 tahun. Perempuan asal Serui yang sehari-hari berjualan di Sentani ini juga langganan ikut berjualan di FDS.

Ia berjualan pernak-pernik hasil kerajinan tangan sendiri berbahan dari alam Papua, kecuali rotan yang dipesan dari Yogyakarta. Dengan bahan itu ia membuat anting, sisir bamboo, tas berbahan benang dan kulit kayu, gorden dari manik-manik. Harganya bervaiasi, mulai Rp 35 ribu sampai Rp 375 ribu.

Menurut Maitindom, pengunjung FDS tahun ini pada pembukaan hari pertama masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun secara umum keramaian FDS tahun ini berkurang.

Pengunjung yang banyak dari berbagai daerah tentu sangat ingin membeli oleh-oleh khas Papua yang dibikin oleh Mama-Mama Papua sendiri. Karena itu tahun kemarin dengan modal Rp 250 ribu ia bisa mendapatkan Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta sehari.

“Hasil penjualan Mama gunakan untuk untuk kebutuhan rumah dan anak yang masih di bangku studi, kemudian sisanya Mama kelola lagi,” katanya.

Ibu lima anak ini sebelumnya memiliki kios di bangunan PD Irian Bhakti Kota Jayapura. Namun setelah bangunan itu terbakar pada November 2017 belum ada tempat pengganti untuk berjualan. Juga belum ada ganti rugi yang ia terima.

Ia ingin mengembangkan usaha pernak-perniknya, namun terkendala biaya.

“Saya memang mau kembangkan, tapi dana juga harus mendukung to, saya dah berpikir untuk membuka di Raja Ampat, cuma terkendala dana, jadi harus cari dana,” katanya.

Mutiara Patandean, pengunjung FDS yang ditemui Jubi. Ia mengaku sudah mengunjungi FDS empat kali selama ia berada di Jayapura. Menurutnya yang paling unik di TDS adalah kerajinan buatan tangan tersebut.

“Saya itu senang dengan Mama-Mama Papua punya kerajinan ini, soalnya mereka itu kreatif, bisa bikin bunga, gantungan kunci, tas, sepatu, pakaian, dan banyak yang lain lagi,” ujarnya

Ia mengaku selalu membeli untuk oleh-oleh kepada teman-temannya, karena mereka suka meminta buah tangan dari Papua.

“Soal harga itu bukan masalah, yang jadi persoalan itu bisa mereka dapat keuntungan dari berjualan kerajinan tangan,” katanya.(*)

Source: Tabloid Jubi West Papua

Comments

comments

Related Articles

Add Comment