Dinilai hina bangsa Papua, DAP minta Kapolri periksa Vennetie R Dannes

Category: MADAT 13 0
Orang asli Papua (OAP) dengan atribut adatnya dalam sebuah acara budaya di Jayapura – Jubi/Abeth You
Orang asli Papua (OAP) dengan atribut adatnya dalam sebuah acara budaya di Jayapura – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Dewan Adat Papua (DAP) menilai pernyataan Vennetie R. Dannes selaku Deputi Bidang Perlindungan Perempuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) yang dimuat di sindonews.com berjudul “Tradisi Seks Bebas usai Menang Perang di Papua Melanggar UU“ telah menghina orang asli Papua terutama asli pegunungan tengah.

“Kur itu bahasa apa? Kata ibu Vennetie ini kur dalam bahasa pegunungan artinya seks bebas setelah perang. Tidak ada budaya masyarakat gunung seperti yang ibu ini maksudkan,” ujar Sekretaris II DAP, John NR Gobay kepada Jubi di Abepura, Rabu, (20/6/2018).

Oleh karena itu, Gobai dengan tegas meminta kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) agar segera memeriksa penyebar berita bohong (hoax) ini.

“Saya minta pak Kapolri periksa ibu ini. Ya, karena ini penghinaan bagi kami. Kur itu bahasa Ilaga dan Beoga, Amungme bilang Kud. Yang artinya salam, yang baku jepit jari baru kasih bunyi. Tidak ada kaitan sama sekali dengan seks. Sekali lagi, ini pelecehan bagi adat,” ungkapnya tegas.

Ketua umum KNPB Pusat, Victor Yeimo menegaskan, pernyataan tersebut merupakan intimidasi verbal paling sadis terhadap martabat orang asli Papua, sebab menurutnya stigma ini lebih bahaya dari intimidasi fisik.

“Ada yang tahu tradisi ini dari suku mana? Saya tidak pernah dengar tradisi Kur. Dinyatakan dengan sadar dan resmi oleh penguasa Indonesia. Inilah paradigma kolonialisme sesungguhnya pada bangsa Papua,” kata Yeimo.

Mantan Jubir KNPB Internasional ini mengatakan, penghinaan seperti ini diopinikan sengaja agar publik Indonesia menempatkan orang Papua sebagai manusia tak beradab dan biadab.

“Dari kanibal, gorila (monyet), hingga budaya pesta seks, semua dialamatkan pada bangsa Papua. Lantas, masih layakkah kita hidup bersama negara yang menempatkan kita jauh lebih buruk dari seekor binatang?. Mari kita bertindak,” katanya.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Vennetia R Dannes menegaskan hal itu salah dan merupakan satu kekerasan terhadap kaum perempuan. Tradisi kur yang dilakukan warga Papua bagian pegunungan jika mereka menang dalam sebuah peperangan dinilai melanggar Undang-undang.

Menurutnya kur adalah bahasa orang Papua bagian pegunungan, dan jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pesta seks.

“Ini bukan saja menyangkut kesalahan moral tetapi hal ini melanggar Undang-undang(UU),” ungkap Vennetia, Selasa 22 Mei 2018 dilansir sindonews.com. (*)

Comments

comments

Related Articles

Add Comment