Membunuh Sukarno Kala Lebaran Kurban

Oleh: Petrik Matanasi – 14 Mei 2018
Pistol di balik tikar. Incar Bung Besar di hari akbar.
Pistol di balik tikar. Incar Bung Besar di hari akbar.

tirto.id – Minggu pagi 13 Mei 1962. Rumah Mangil Martowidjojo kedatangan Komandan Pengawal Istana Presiden di Jakarta, Kapten CPM Dachlan. Ada kabar maha penting yang tak hanya perlu didengar, tapi ditanggulangi: ada usaha pembunuhan dari kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) terhadap Presiden Sukarno tepat di hari umat Islam merayakan Idul Adha. Di hari itu, Sukarno dan beberapa tokoh agama akan melakukan salat Id di halaman Istana—yang terbuka bagi siapa saja.

Soal usaha pembunuhan kepada Sukarno, Mangil dan pengawal lain sudah sering menghadapinya.

Esoknya, pada 14 Mei 1962, tepat hari ini 56 tahun lalu, pagi-pagi buta Mangil sudah datang ke tempat di mana Sukarno akan melaksanakan salat berjamaah, yakni di lapangan antara Istana Merdeka dengan Istana Negara. Semua sudut diperiksa Mangil dan bawahannya. Mangil sudah merencanakan adanya enam pos, yang masing-masing ditempati dua pengawal presiden dengan bersenjatakan Senapan AR-15 (versi sipil M-16). Itu semua dilakukan demi mengantisipasi adanya serangan bersenjata dari luar.

Ketika peserta salat Id mulai berdatangan, pasukan pengawal pimpinan Dachlan memeriksai mereka. “Akan tetapi, lantas kami minta dengan hormat agar menempatkan diri masing-masing di baris ke lima,” aku Mangil dalam autobiografinya Kesaksian tentang Bung Karno, 1945-1967 (1999: 331).

Mangil dan pimpinan pengawal mendapat pemberitahuan dari Kepala Rumah Tangga Istana Soehardjo Hardjowardojo tentang siapa saja di barisan pertama hingga keempat. Nantinya, baris pertama, selain ada Sukarno, diisi juga oleh personil-personil Angkatan Darat; baris kedua Angkatan Laut; baris ketiga Angkatan Udara; dan baris keempat Angkatan Kepolisian. Namun, di belakang baris pertama itu tercampur aduk antara kalangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan masyarakat umum.

Ketika Mualif Nasution, sekretaris pribadi Sukarno, menyuruh para Jemaah berdiri untuk merapatkan barisan, anak buah Mangil tersebar selang-seling di belakang Sukarno. Mangil dan Sudiyo menempatkan diri di depan presiden, menghadap orang-orang yang salat. Itu semua demi keamanan Sukarno.

Di luar tempat salat, banyak pasukan dari Corps Polisi Militer (CPM) berjaga. Di antara CPM itu ada juga yang ikut salat di barisan belakang. Letnan Dua CPM H.W. Sriyono juga ikut salat di situ. Menurut Sriyono, yang sejak 1952 menjaga Sukarno, sejak dirinya masih berpangkat Sersan Mayor, kala itu para pengawal terdiri atas pasukan dari korps Brigade Mobil (Brimob) yang disiagakan di ring satu. Sementara itu di ring luar terdapat pasukan dari CPM.

Menembak di Rakaat Kedua

Sebelum salat, semua tampak baik-baik saja. Salat Id itu kemudian berantakan ketika seorang jamaah di baris keenam berteriak “Allah Akbar!” Aksi penembakan terhadap presiden pun dimulai.

“Pada rakaat kedua, dia (penysup) ambil pistolnya untuk menembak,” aku Sriyono yang belakangan jadi Kolonel CPM.

Sriyono berkali-kali jadi saksi atas percobaan pembunuhan terhadap Sukarno, namun tak sekalipun Sukarno terbunuh.

Maksud hati si penyusup itu menembak Sukarno, tapi justru mengenai Komisaris Soedarjat. Menurut pengakuan Mangil, waktu terdengar suara takbir dari si penyusup itu, Soedarjat tak hanya merasa sudah rusak salatnya tapi juga mencium bahaya. Dia segera berbalik dan tertembus timah panas.

Ketika ada penembak yang hendak bergerak maju menuju presiden, beberapa pengawal menjegalnya. Pergumulan beberapa penyerang dengan pengawal terjadi. Pembantu Letnan Wahid juga ikut berjibaku dengan para penyerang.

Salat Idul Adha itu pun bubar dan tidak bisa dilaksanakan seperti yang diinginkan gara-gara aksi pendukung Negara Islam Indonesia yang sudah bertahun-tahun keukeuh melawan Republik. Aksi yang gagal membunuh Sukarno itu sukses melukai tubuh seorang ulama bernama Kiai Zainul Arifin.

Infografik Mozaik Percobaan Pembunuhan Sukarno

Teror DI/TII

Belakangan diketahui oleh Mangil, para pelaku penembakan itu bisa masuk arena salat berkat kartu undangan masuk dari Haji Bachrun yang tinggal di Jalan Jarta I nomor 21 Bogor. Para pelaku terkait dengan gerakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Para pelaku adalah Sanusi alias Fatah alias Soleh (32), Harun alias Kami alias Karta (27), Djaja Permana bin Embut alias Hidayat alias Mustafa (35), Tapbi alias Ramdan alias Jahaman bin Mahadi alias Iding (30), Abidin alias Hambali bin Tajudin (22), Cholil alias Pi’I bin Dachroj (20), Dachja bin Candra alias Musa (28), dan Nurdin bin Satebi (19).

Kecuali yang pertama, keseharian dari para penyerang ini adalah anggota gerombolan DI/TII Jawa Barat pimpinan Kartosuwiryo.

Dari pengakuan Sanusi, pernah ada usaha membunuh Sukarno pada 9 Maret 1962, ketika dirayakan Idul Fitri 1381 hijriyah. Rencana itu gagal karena beberapa anggota mereka tertangkap.

Komplotan itu mulai bergerak sejak subuh 05.30 WIB. Mereka yang langsung beraksi adalah Sanusi, Harun, dan Dayat. Selain Dayat yang bawa granat, dua lainnya bawa pistol. Lima anggota lain mengamati dan jadi pelapor. Ketika masuk ke komplek istana, mereka tidak masuk bersama-sama. Mereka berpencar. Ketika mereka berada di dalam, Harun berhasil menyembunyikan pistolnya di bawah tikar. Dia tak jadi beraksi karena ragu. Ketika Sanusi beraksi, Harun justru panik dan keluar dari area misi mereka. Harun sempat bertemu Dayat dan mengaku senjatanya macet. Setelah itu, Harun kabur ke Cianjur.

Menurut Maulwi Saelan dalam Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 Sampai Kudeta 1965 (2008: 175), pelaku penembakan mengaku kesulitan membidik Sukarno. Dia mengaku sulit membedakan mana Sukarno dan mana yang bukan. Akhirnya, tembakan itu menyerempet bahu Ketua DPR Zainul Arifin (wakil dari Nahdlatul Ulama).

Percobaan pembunuhan Presiden yang gagal, untuk ke sekian kalinya itu, membuat satuan khusus pengawal Presiden dibentuk.

“Pada hari kelahiranku (6 Juni) di tahun 1962, dibentuklah pasukan Tjakrabirawa. Satu pasukan khusus dengan kekuatan 3.000 orang yang berasal dari keempat angkatan bersenjata. Tugas pasukan Tjakrabirawa adalah melindungi presiden,” kata Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat (2007:370) yang ditulis Cindy Adams.

Satuan ini resminya disahkan pada 5 Juni 1962 berdasar Keputusan Presiden/Panglima Tertinggi No. 211/PLT/TH. 1962. Dari empat angkatan, hanya Angkatan Darat yang tidak menyumbangkan pasukan kelas satunya. Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) lebih diarahkan sebagai pasukan khusus untuk tugas tempur di belakang garis pertahanan musuh ketimbang jadi pengawal. Dari Angkatan Darat, ada pasukan para Batalyon 454, yang di dalamnya terdapat Letnan Kolonel Untung. Sebanyak 60 pasukan itu terlibat dalam G30S 1965.

Seperti pelaku Peristiwa Cikini, pelaku insiden Idul Adha 1962 itu juga dijatuhi hukuman mati. Namun tidak jelas bagaimana eksekusinya. Yang jelas-jelas tereksekusi mati justru Kartosuwiryo, meski tempat eksekusi dan makamnya tidak pernah jelas. Beberapa bulan setelah Idul Adha, pada Kartosuwiryo tertangkap. Setelah diadili, dia divonis hukuman mati pada 16 Agustus 1962.

Baca juga artikel terkait SUKARNO atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi

(tirto.id – Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Comments

comments

Add Comment