Penutupan Tanjung Elemo, manusiawi dan memuliakan manusia

Category: Mamta 6 0
Bupati Jayapura bersama Wali Kota Surabaya saat menjadi narasumber di Rakornas Penanganan Prostitusi dan Supporting Penutupan Lokalisasi - Jubi/IST
Bupati Jayapura bersama Wali Kota Surabaya saat menjadi narasumber di Rakornas Penanganan Prostitusi dan Supporting Penutupan Lokalisasi – Jubi/IST

Sentani, Jubi – Keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura menutup lokalisasi terbesar di daerah ini, Tanjung Elemo, beberapa tahun silam, mendapat apresiasi Kementerian Sosial RI.

Beberapa waktu lalu, Bupati Jayapura Mathius Awoitauw diundang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Rapat Koordinasi Nasional tentang Penanganan Prostitusi dan Supporting Penutupan Lokalisasi yang diselenggarakan Ditjend Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial RI, di Jakarta.

Rakornas ini digelar dalam rangka menyukseskan program pemerintah melalui Kementerian Sosial yakni Indonesia Bebas Prostitusi di Tahun 2019.

Direktur Rehabilitasi Tuna Sosial dan Perdagangan Orang pada Kemeterian Sosial RI, Sony W Manalu, mengaku sangat bangga dan tidak sia-sia menghadirkan Bupati Jayapura menjadi narasumber dalam rakornas tersebut.

“Kenapa kita pilih Bupati Jayapura untuk hadir dalam rakornas ini? Ternyata seorang bupati yang ada nun jauh di ujung timur Indonesia memiliki kemampuan dan pola pikir yang jauh lebih maju dari kami, orang-orang lebih dekat dengan pusat pemerintahan. Proses pemulangan para pekerja seks komersial ini sangat manusiawi dan melalui tahapan yang terukur. Mulai dari riset, sosialisasi, regulasi yang pas, koordinasi, sampai dengan proses pemulangan. Tidak itu saja, para pekerja seks komersial ini juga diberi tunjangan hidup dan pengobatan. Ditampung di hotel, lalu diantarkan sampai di tempat asal mereka masing-masing. Ini yang kami sebut manusiawi dan memuliakan manusia,” ungkapnya.

Lokalisasi terbesar di Kabupaten Jayapura, Tanjung Elemo, ditutup oleh Pemkab Jayapura di masa kepemimpinan Bupati Mathius Awoitauw, setelah dua bupati sebelumnya gagal mengeksekusi tempat praktek prostitusi itu.

Kehadiran Bupati Awoitauw dalam rakornas tersebut menjelaskan bagaimana upaya pihaknya dalam melaksanakan pelayanan intens terhadap proses pemulangan puluhan pekerja seks komersial (PSK) dari Tanjung Elemo ke daerah asal masing-masing.

Menurut Bupati Awoitauw, dari hasil koordinasi dan komunikasi yang terus dilakukan pada waktu itu, kehadiran para PSK di Tanjung Elemo awalnya dijanjikan pekerjaan oleh para mucikari. Tetapi setelah tiba dari berbagai daerah ke Papua, mereka diarahkan ke Tanjung Elemo.

“Para perempuan yang akhirnya menjadi PSK ini sesungguhnya terbelenggu dengan pekerjaan yang dijanjikan. Kenyataan pekerjaan yang dijanjikan itu ternyata tidak sesuai harapan dari tempat asal mereka datang,” jelas Bupati Mathius, saat dihubungi melalui telepon selulernya, di Sentani, Jumat (20/4/2018).

Dikatakan, dalam rakornas tersebut Pemkab Jayapura dalam pemulangan puluhan PSK ini, prosesnya berjalan baik hingga mereka sampai di daerah asal.

“Setelah terdata oleh tim terpadu, para pekerja seks komersial ini kita keluarkan dari tempat prostitusi tersebut lalu diinapkan di sebuah hotel di Sentani. Setelah itu diantar menggunakan kapal laut ke daerah asal masing-masing. Proses ini juga atas dukungan pihak gereja, masyarakat adat, tokoh perempuan, dan pemuda,” ujarnya.  (*)

Comments

comments

Related Articles

Add Comment