Mama Yosepha titip noken pelanggaran HAM untuk pemimpin gereja Katolik dunia

Category: Hak Asasi Manusia 3 0
Mama Yosepha Alomang didampingi Markus Haluk dan juru bahasanya sedang bincang-bincang dengan Kardinal Mafi dan Ribat Kardinal Mafi membawa noken bermotif Bintang Kejora - Jubi/Ist.
Mama Yosepha Alomang didampingi Markus Haluk dan juru bahasanya sedang bincang-bincang dengan Kardinal Mafi dan Ribat Kardinal Mafi membawa noken bermotif Bintang Kejora – Jubi/Ist.

Jayapura, Jubi – Mama Yosepha Alomang bertemu dengan dua pemimpin gereja Katolik di Pasifik. Uskup Agung Port Moresby, PNG,  Kardinal John Ribat dan Uskup Agung Tonga dari Tonga, Kardinal Soane Patita Paini Mafi usai pertemuan para uskup se-Oceania yang berlangsung pada 12 hingga 16 April 2018 di Port Moresby, Papua New Guinea.

Usai pertemuan itu, pada 17 April, mama Yosepha Alomang ditemani tokoh katolik Papua, Markus Haluk bertemu dua Kardinal itu. Dalam pertemuan bersejarah ini, Mama Yosepha menyerahkan dua noken kepada dua Kardinal ini. Noken motif Bintang Kejora dan motif Papua berisi masalah perampasan sumber daya alam yang berujung kepada pelanggaran hak asasi manusia, pengerusakan iman dan moral.

Mama menitipkan pesan ini kepada Kardinal Mafi dan Ribat untuk diteruskan kepada pemimpin gereja Katolik Dunia, Paus Franciskus di Vatikan.

“Tulang belulang ini saya gantung di bahu Bapa Kardinal John (Melanesia) dan Kardinal Mafi (Tonga: Polinesia dan Micronesia) sebagai wakil Bapa Paus untuk serahkan kepada bapa Suci Paus Franciskus,” ungkap mama sambil mengantungkan noken ke leher para kardinal di Moresby, Selasa (17/4/2018).

Kata Mama Yosepha, pemimpin gereja Katolik harus bicara tentang kematian yang terjadi di West Papua. Terutama Paus Franciskus harus berbicara jauh  sebelum orang Papua habis, akibat perilaku pemerintah Indonesia di atas Tanah West Papua.

Kata dia kepada Kardinal Ribat dan Mafi, pembunuhan yang berlangsung di West Papua dalam rangka membungkam keinginan untuk menentukan nasib sendiri dan perebutan sumber daya alam.

“Yang mulia Bapa Kardinal, gara-gara gambar bendera Papua di Noken ini, karena pulau ini kaya, kami terus ditangkap dan dibunuh,” ungkap mama.

Kata mama, para pemimpin gereja Katolik di Pasifik dan dunia harus bersuara melindungi nyawa dan alam Papua. Melindungi manusia Papua dengan mendoakan dan melakukan tindakan nyata, harus menjadi satu tindakan gereja yang mendesak.

“Kalau Bapa Paus tidak berdoa bagi Papua, kami pasti mati. Gereja adalah sandaran dan tumpuan kami yang terakhir. Kamu harus lihat kami,” harap mama.

Sementara, Markus Haluk, yang juga kepala kantor Koordinasi ULMWP di West Papua, yang mendampingi mama Yosep mengapresiasi perjuangan Mama yang tidak pernah lelah dengan berlinang air mata.

“Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata dari mama Papua yang juga tokoh perempuan Katolik Papua ini, menyerahkan ini kepada Kardinal Mafi dan Kardinal John,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pesan akhir dari mama kepada Kardinal Ribat dan Mafo sangat mengharapkan satu tindakan iman dari dalam gereja Katolik, “Terjadilah Seturut Kehendak-Mu Tuhan”.

Dominikus Surabut, ketua Dewan Adat Papua hasil konfrensi luar biasa di Balim mengatakan,  gereja Katolik harus mendengarkan jeritan rakyat Papua. Rakyat Papua sudah lama merindukan suara kenabian yang melindungi.

“Gereja sudah lama berdiam diri jadi gereja katolik di Pasifik harus membuka pintu bisu gereja katolik di Papua, Indonesia,” ujar dia kepada jurnalis di Expo Waena, kota Jayapura, Papua, Kamis (19/4/2018). (*)

Comments

comments

Related Articles

Add Comment