Suku Momuna: Berburu, meramu dan kepercayaan

Masyarakat suku Momuna Yahukimo-Jubi/Piter Lokon.

Masyarakat suku Momuna Yahukimo-Jubi/Piter Lokon.

Yahukimo, Jubi – Suku Momuna memiliki kesamaan dengan masyarakat Korowai terutama model rumah atau rumah pohon. Orang Momuna menyebut rumah pohon atau rumah tradisional  mereka, dengan nama “Buku Subu”. Seperti apa kisahnya? Berikut jurnal yang telah tayang di Koran Jubi, karya Piter Lokon.

***

Masyarakat suku Korowai, tersebar di tiga wilayah administrasi: Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Sementara suku Momuna, tersebar di dataran rendah kota Dekai, Yahukimo.

Namun  sejurus perkembangan zaman, kini masyarakat suku Momuna sudah jarang lagi tinggal di rumah pohon. Mereka sudah tinggal di rumah biasa, hasil bantuan sosial pemerintah Kabupaten Yahukimo. Walau demikian, upaya untuk membangun “Buku Subu” tetap dilakukan guna menarik turis lokal dan nusantara untuk berkunjung ke kampung mereka di Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo.

Orang Momuna sejak dulu sudah memiliki keyakinan dan kepercayaan sendiri soal penciptaan terutama Allah pencipta.

“Kami tidak percaya kepada pohon atapun kali, kami meyakini bahwa ada yang menciptakan kami,” kata Kepala Suku Besar Momuna Ismail Keikera kepada Jubi belum lama ini di kediamannya.

Lebih lanjut dia menambahkan, ada yang menciptakan dan tentu pemilik ciptaan itu pasti ada, sehingga ada tempat keramat atau tempat penghuni.

“Kami percaya bahwa orang yang berkuasa ada, sehingga kami tidak menyembah pohon atau kali dan kepada apapun. Dulu itu ada hanya tempat keramatlah atau larangan-larangan dari nenek moyang sampai generasi kami sekarang begitu,” kata Keikera menambahkan.

Ia mencontohkan pada pohon, ada larangan orang tua bahwa kayu merah atau dengan bahasa Momuna disebut “koweni“ jangan ditebang atau disentuh, sebab jika menyentuh ataupun memotong pasti bisa menjadi gila.

“Jadi kita lihat orang banyak yang seperti gila meronta-meronta di rumah sakit itu bukan karena apa, itu mereka sentuh pohon Koweni, kalo kami kena tidak perlu kerumah sakit tetapi tinggal tiup sebentar saja sudah sembuh,”katanya.

Dia menambahkan, sudah bertemu sebanyak lima warga yang meronta-ronta seperti orang gila.

“Dokter sudah ikat kaki dan tangan tetapi orangnya tetap saja meronta jadi dorang ada ganggu dia, saya sudah temukan sudah lima kali,” kata Ismail.

Walau demikian Ismail menambahkan, suku Momuna belum pernah memberikan penyembahan kepada pohon, batu atau kali.

“Tetapi kami menyembah kepada Potmadito (Allah) Pencipta yang menguasai langit dan bumi. Jadi ternyata cerita Alkitab juga sama tidak ada perubahan, sehingga kami percaya bahwa Allah pencipta ada,” katanya.

Dia menegaskan jadi tua-tua itu menjadi kepala suku menurut silsilah yang mereka anut.

“Kalau dilihat dari pembuangan Babel jadi kami jelas, di mana pembuangan babel kita yakini Allah yang sama,” ucapnya.

Kepercayaan kepada Allah pencipta, membuat masyarakat Momuna sangat dekat dengan alam dan lingkungan mereka. Hingga tak heran kalau mereka selalu mempertahankan hidup dengan mencari ikan atau dalam bahasa Momuna disebut Ci, menokok sagu atau (Mbi) dan Mate atau ubi hutan sudah menjadi makan pokok sehari-hari dari orang Momuna.

Selain itu, orang Momuna juga berburu hasil hutan, seperti babi hutan, burung Kasuari, buaya, kura-kura dan lain sebagainya. Setiap kali berburu selalu dibekali dengan sagu, baru bisa mencari daging atau burung dan ikan.

Umumnya orang Momuna mengenal Ubi Gubu atau Matei dalam bahasa Momuna mulai dikenal setelah misionaris datang membawa turun Injil ke Dekai.
Meramu dan berburu

Sejak dulu orang tua selalu hidup berpindah-pindah, kata Ismail. Karena ketika sumber makanan habis, maka mereka harus pindah dan membuka kebun baru lagi.

Para antropolog menyebutkan, ada tiga macam kehidupan nomaden, yaitu sebagai pemburu-peramu (hunter-gatherers), penggembala (pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads).

Berburu-meramu lanjut pakar antropolog adalah metode bertahan hidup yang paling lama bertahan dalam sejarah manusia, dan para pelakunya berpindah mengikuti musim tumbuhan liar dan hewan buruan. Rotasi perladangan berpindah-pindah itu akan berlangsung selama 20 tahun dan masyarakat adat akan selalu kembali ke lokasi semula untuk berkebun karena sudah subur.

Perladangan berpindah-pindah sebenarnya sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Jika kesuburan lahan mulai berkurang mereka akan membiarkan lahan itu (follow of period) untuk memperbaiki siklusnya dan ini sangat berbeda ketika menerapkan pertanian menetap, karena lahan-lahan tropis tak selamanya subur jika tak diberi pupuk.

Antropolog Indonesia Prof Dr Subur Budi Santoso dalam penelitiannya mengatakan, etos kerja dari masyarakat peramu dan pemburu sangat kuat untuk mencapai hasil sebaik mungkin tanpa harus merusak lingkungan, sebagai pola-pola pengembangan adaptasi manusia.

Makanan pokok orang-orang Momuna sejak dulu sagu dan ubi-ubian tetapi sagu adalah makanan pokok masyarakat setempat.

“Tidak  ada sagu juga orang bisa lemah, tetapi sekarang ini baru ada nasi,” kata Kepala Suku besar Momuna.

Menurut dia tak boleh sembarang orang menebang sagu, karena itu makanan pokok orang asli Momuna, jika ditebang jelas membunuh orang Momuna.

“Siapapun yang tebang sagu dendanya bisa sampai Rp50 juta , jangan macam-macam karena itu makanan pokok kami orang Momuna, karena ini sama saja membunuh satu orang nyawa,” katanya.

Dia tak memungkiri kalau pemerintah juga pernah memberikan beras miskin atau beras sejahtera yang diterima dari Pemerintah Yahukimo melalui PD Irian Bhakti dan diserahkan kepada aparat desa.

“Kami berharap kedepan melalui desa bisa dapat beras perbulan sebagai warga negara Indonesia,” kelakarnya.(*/Mampioper)

Comments

comments

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment