Sampah dari perkotaan kotori Danau Sentani

Sampah yang terapung di Dermaga Yahim akhir tahun lalu. Jubi / Engel Wally.

Sentani, Jubi – Salah satu objek pariwisata andalan di Kabupaten Jayapura, yakni Danau Sentani, kondisinya kini memprihatinkan akibat menjadi muara beberapa sungai yang membawa sampah dari perkotaan.

Dikatakan Ketua Dewan Adat Suku (DAS) Sentani, Demas Tokoro, pemerintahan di Kota Jayapura, harus bersikap tegas terhadap permasalahan ini.

“Pemerintah setempat harus tegas dalam mengurusi masyarakat perkotaan. Paling tidak ada regulasi semacam peraturan daerah, yang mengatur tentang pembuangan sampah di perkotaan. Agar warga tidak membuang sampah di sungai,” katanya, saat ditemui di Sentani, Rabu (07/02/2018).

Sementara di Danau Sentani, kata dia, pemerintah kabupaten mesti membangun semacam filterisasi air di setiap hulu sungai.

“Alat itu berupa saringan besar yang dapat menyaring semua sampah yang tidak terurai, yang dibuang masyarakat,” katanya.

Tokoro sendiri sepakat dengan pernyataan Ondofolo Kampung Ifar Besar, Franz Alberth Joku, yang mengatakan kepadanya bahwa Danau Sentani sudah menjadi septi tank terbesar.

“Akibat sampah yang dibuang masyarakat perkotaan, danau mengalami pendangkalan. Jika tidak serius menanganinya, maka sepuluh hingga dua puluh tahun akan datang, Danau Sentani penuh dengan bukit-bukit sampah yang mencuat dari dalam danau,” ujarnya.

Salah satu warga Kampung Yahim, Libert Pangkali, membenarkan kondisi danau yang memprihatinkan.

“Salah satu muara sungai yang berada di kampung saya, telah membentuk bukit lumpur berpasir dan sampah sepanjang lima puluh meter, yang menjorok ke Danau Sentani,” katanya.

Apalagi saat banjir besar, kata dia, sampah dari perkotaan banyak mengapung di danau.

“Akhir tahun lalu, banyak sampah yang turun dari muara ini dan memenuhi Dermaga Yahim. Akibatnya semua aktivitas penyeberangan menggunakan speed boat dan perahu motor dari Dermaga Yahim ke kampung-kampung, lumpuh total,” ujarnya. (*)

Comments

comments

Add Comment