Menko Puan: Dana Otsus Papua Besar, Harus Bisa Sejahterakan Warga

Category: Otonomi Khusus 0 0

Haris Fadhil – detikNews, Rabu 31 Januari 2018, 13:47 WIB

Menko Puan: Dana Otsus Papua Besar, Harus Bisa Sejahterakan Warga
Menko Puan: Dana Otsus Papua Besar, Harus Bisa Sejahterakan Warga

Jakarta – Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani menyebut dana otonomi khusus (Otsus) Papua dan Papua Barat besar. Dana itu harusnya cukup untuk mengelola pemerintahan dan menyejahterakan masyarakat.

“Dana otsus yang pemerintah ke Papua dan Papua Barat itu sangat besar sekali. Harusnya cukup untuk bisa ikut mengelola pelaksanaan pemerintahan dan kesejahteraan yang ada di sana,” kata Puan di Kantor Menko PMK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2018).

Namun, Puan tak menjawab secara tegas apakah dana otsus akan dipakai untuk penanganan kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua. Ia hanya menyebut saat ini pemerintah lewat Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Keuangan sedang melihat apakah penggunaan dana otsus Papua dan Papua Barat sudah tepat sasaran.

“Anggaran untuk program adanya di kementerian lembaga. Tapi berkaitan dengan tata kelola pemerintahan yang berkaitan hal yang ada di sana, kita akan lihat lagi apakah dana otsus yang itu manfaatnya sampai ke tujuannya atau tidak,” ucapnya.

“Ini memang tugas dari Kemendagri untuk kemudian nanti mengecek, melihat apakah uang itu memang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Jadi, kita juga sudah minta Kemendagri dan Kementerian Keuangan untuk melihat lagi hal tersebut,” sambung Puan.

Sementara, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyatakan telah mengirim tenaga medis ke wilayah terjadinya gizi buruk. Para tenaga medis itu akan secara bergantian dikirim untuk menetap selama satu bulan di distrik yang terjadi gizi buruk dan campak.

“Penguatan nusantara sehat akan dilakukan dan kita sebutnya tugas khusus jadi individu. Jadi individu sudah kami lakukan tetapi tetap kami memerlukan dokter umum. Ini yang kita akan merekrut kembali dan mengirimnya. Caranya tentu tidak bisa juga mungkin jangka panjang. Tapi jangka pendek satu bulan, satu bulan kita tukar mungkin melalui Timika kita akan tukar,” ujar Nila.

Ia menyebut permasalahan di Asmat bukan sekedar kesehatan. Ada faktor lain yang membuat gizi buruk dan campak merebak di sana.

“Disadari betul kesehatan ini 30 persen barangkali menjadi pendukung. 70 persen adalah lingkungan, akses air bersih, ESDM tadi sudah mau melakukannya, listrik kemudian hal-hal yg lain. Juga budaya mungkin ada Meneg PPPA, bahwa budaya di sana. Pendidikan ini sangat-sangat yang harus kita perbaiki,” ujarnya.
(haf/idh)

Comments

comments

Related Articles

Add Comment