Kasus Nduga dinilai jadi noda Papua di awal tahun

Ilustrasi - Jubi.Dok
Ilustrasi – Jubi.Dok

Jayapura, Jubi Anggota Komisi I DPR Papua yang membidangi hukum dan HAM, Laurenzus Kadepa mengatakan, kasus meninggalnya seorang pemuda di Kabupaten Nduga, Papua, Anekanus Kemaringi karena diduga dianiaya oknum TNI, merupakan noda Papua di awal tahun ini.

Ia khawatir, kasus Nduga akan menjadi awal kelam di Papua tahun ini. Tidak menutup kemungkinan, ke depan akan banyak lagi darah masyarakat sipil Papua yang tumpah.

“Saya khawatir tahun ini banyak kejadian, apalagi ini tahun politik. Awal tahun sudah seperti ini. Saya minta masyarakat Papua waspada, kepada semua institusi negara, harap dapat mengendalikan diri,” kata Kadepa kepada Jubi, Jumat (5/1/2017).

Menurutnya, sama seperti kejadian lain di Papua, dalam kasus Nduga juga ada perbedaan kronologis antara pihak Kodam dengan masyarakat. Kodam menyatakan karena penyerangan, sementara masyarakat menyampaikan hal sebaliknya.

“Saya turut berbelasungkawa terhadap korban. Perbedaan kronologis Kodam dan masyarakat, itu sudah sering terjadi, bukan hal baru,” ujarnya.

Katanya, sejak dulu semua kasus yang melibatkan oknum TNI-Polri, kronologisnya selalu berbeda. Kronologis versi kepolisian dan TNI, berbeda dengan laporan masyarakat atau saksi.

“Saya pikir, ke depan apa pun yang dikerjakan, masyarakat tidak akan percaya lagi. Ini masalah kepercayaan,” katanya.

Ia juga pesimis, kasus ini dapat dituntaskan, meski pihak terkait, termasuk DPR Papua turun lapangan.

“Akan seperti berbagai kasus lainnya, tidak ada kepastian penyelesaian. Saya mau, secara lembaga DPR Papua mengundang Kodam XVII/Cenderawasih, membicarakan masalah ini,” ucapnya.

Aktivis Hak Asasi Manusia di Nduga, Wene Talenggen mengatakan, anggota TNI Pos Maleo yang bertugas di wilayah itu menganiaya Anekanus Kemaringi hingga meninggal dunia.

Jasad korban berusia 22 tahun itu sempat disembunyikan di pos jaga, bahkan sempat ditolak saat keluarga meminta jasad korban.

“Anggota mau tembak, mulai memberikan tembakan tetapi komandan pos bilang pukul saja. Mereka memukuli hingga korban babak belur,” ujar Wene kepada Jubi, Selasa (2/1/2018)

Menurutnya, saat kejadian, korban berusaha menyelamatkan diri dengan cara lari sejauh lima meter dari pos, namun komandan pos dan satu anggotanya yang bertugas, menarik korban ke pos.

“Korban sudah tidak berdaya ada di depan pos. Saat itu enam anggota TNI dari Koramil Nduga datang menganiaya korban hingga meninggal dunia,” ucapnya.

Kapendam Kodam XVII/Cendrawasih, Kol Inf Muhammad Aidi mengatakan, peristiwa itu berawal dari penyerangan pos TNI.

“Empat warga menyerang anggota pos menggunakan senjata tajam,” kata Aidi.

Salah satu penyerang lanjut dia, berusaha merebut senjata anggota. Saat itu, terjadi duel anggota TNI dan korban.

“Anggota TNI mengeluarkan tembakan melumpuhkan salah satu penyerang,” ujarnya.

Katanya, korban datang ke pos dalam rangka open house pos TNI. Namun setelah acara, korban menyerang anggota pos yang berujung kekerasan. (*)

Comments

comments

Add Comment