Program Tol Laut belum efektif di Manokwari

Category: Domberai, Otonomi Khusus 4 0

MANOKWARI, Cahayapapua.com— Program Tol Laut yang dicanangkan Presiden Jokowi, rupanya belum maksimal di ibukota Provinsi Barat – Manokwari. Hal itu diungkapkan pedagang Pasar Wosi kepada Kepala Bidang Distribusi Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI, Liek Irianti yang melakukan kunjungan kerja (kunker) bersama Tim Satgas Pangan Papua Barat.

Seperti diutarakan salah satu distributor pangan di Pasar Wosi, Sundari. “Kami pengusaha menengah ke bawah sulit mengakses tol laut, dan akhirnya hanya bisa mengakses ekspedisi swasta yang tidak masuk program tersebut,” bukanya.

Dijelaskan, angkutan tol laut hanya Rp 9,5 juta sementara ekspedisi swasta harganya sekitar Rp 20 juta. Jika tidak ada keleluasaan akses tol laut, maka pelaku usaha menengah ke bawah kalah bersaing dengan mereka yang mudah mengakses to laut.

“Kita sulit mendapat pelayanan, padahal sudah diupayakan ke salah satu ekspedisi yang menggunakan tol laut, namun selalu di ombang-ambingkan. Akhirnya harga pangan kita kalah bersaing,” tuturnya.

Sundari juga mengeluhkan soal akses informasi dan sosialisasi dari pemerintah daerah terkait penggunaan jasa tol laut. “Paling nggak pemerintah kan memiliki data tentang berapa banyak pengusaha di Manokwari, kenapa tak memberikan informasi tentang bagaimana mengakses tol laut itu,” keluhnya.

Lain halnya dengan distributor pangan Toko Beringin, Erna. Meski mendapat ruang  dalam program tol laut, dia mengaku kerap mengalami keterlambatan pendistribusian barang sehingga berimplikasi terhadap produk yang didatangkan.

“Kapal Meratus Ultima yang merupakan program tol laut kadang mengalami penundaan keberangkatan. Akibatnya barang kami seperti telur, mudah rusak dan cacat,” bebernya.

Menurutnya, kerusakan barang akibat penundaan keberangkatan bisa mencapai 20 hingga 25 persen. Saat ini stok telurnya sekitar 11 ton dan dijamin mampu penuhi kebutuhan menjelang Natal.

“Sebenarnya jika pakai Kapal Pelni pasti cepat, tetapi ongkosnya sangat tinggi sekitar Rp 45 juta. Sebaliknya ekspedisi tol laut hanya Rp 8,5 juta per kontainer,” ujar Erna.

Sikapi kenyataan itu, Liek Irianti kepada wartawan mengatakan, segera berkoordinasi dengan beberapa instansi.“Nanti kita akan sampaikan kepada instansi terkait bahwa sebetulnya ada beberapa hal yang harus ditangani mengenai tol laut,” janjinya.

Terpisah,  Kepala Cabang  PT.  Pelni Manokwari Arief Saldh mengatakan, keterlambatan pendistribusian bahan pangan ke Manokwari- Papua Barat dikarenakan terjadinya antrian kapal cukup panjang di Pelabuhan Surabaya.

“Memang tol laut sementara hanya dilayani satu kapal yaitu Meratus Ultima. Tetapi di bulan Desember ini akan ada tambahan yaitu

Kapal Logistik Nusantara,” tandasnya. (MAR)

Comments

comments

Related Articles

Add Comment