Slogan ‘NKRI Harga Mati’ Tercipta Dari Sosok Ulama Kharimastik Ini

SURATKABAR.ID – Di Indonesia, siapa yang tidak mengenal slogan penuh rasa nasionalisme ‘NKRI harga Mati’. Bukan hanya kita baca, namun frasa ini begitu sering kita dengar dan lihat, apalagi dalam momentum bulan Kemerdekaan dan Proklamasi pada Agustus.

Namun pernahkan anda menanyakan, darimana dan siapakah kira – kira yang pertama kali mengenalkan bahkan mempopulerkan slogan tersebut, hingga bisa mengakar di Tanah Air seperti saat ini?.

Mungkin yang terlintas di pikiran anda, penciptanya adalah seorang tentara, atau bahkan jendral di masa perang.

Nah, bila anda berpikir demikian rupanya anda salah besar. Karena seperti dilansir dari Detik.com, penciptanya adalah seorang ulama, Pendiri Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten.

Ia adalah almarhum KH Moeslim Fifa’I Imampuro, atau yang akrab disapa dengan nama Mbah Liem.

Pada masa lalu, Mbah Liem selalu menyampaikan slogan NKRI Harga Mati dalam  setiap kesempatan, baik itu kegiatan internal pondok, pertemuan kiai, atau acara – acara bersifat umum. Mbah Liem memang tidak pernah lupa memekikkan NKRI Harga Mati!

Baca juga: Terungkap! Inilah 4 Fakta Sejarah Indonesia, Yang Tak Pernah Ditulis dalam Buku Pelajaran

Hal tersebut diuturkan  oleh sang putra, Saifudin Zuhri. Menutnya slogan tersebut mulai didengungkan sang ayah sekitar awal era 90-an.

“Pastinya saat itu beliau sudah sepuh (tua). Paling tidak itu saat berdirinya pesantren ini, sekitar 1994-1995,” ungkap Gus Zuhri, sapaannya, saat ditemui di kediamannya, Sumberejo, Desa Troso, Kecamatan Karanganom, Klaten, Rabu.

Bahkan seeiring waktu berlalu, menurut Zuhri, Mbah Liem juga menlengkapi slogannya menjadi ‘NKRI PAMD Harga Mati’. PAMD sendiri adalah singkatan dari Pancasila Aman Makmur Damai.

“Mbah Liem pernah menulis, ‘Dari manapun kebangsaannya, yang ingin mengganti dasar negara Pancasila, saya dhoif muslim (Mbah Liem) wajib mengingatkan, mengingatkan.’ Disebut dua kali artinya penekanan, tidak ada yang boleh mengganti Pancasila,” pria yang menjabat Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti itu.

Baca juga: Kagum! Inilah Kisah Menteri “Termiskin Dalam Sejarah Indonesia, Namun Selalu “Kaya” Prestasi

Mbah Liem dikenal sebagai seorang ulama kharismatik dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ia merupakan keturunan Kiai Imampura, seorang ulama termasyhur dari Keraton Surakarta. Dekat dengan berbagai kalangan, mulai dari pejabat negara, hingga petani kurang mampu.

Berpenampilan penuh kesederhanaan. Bahkan Mbah Liem diketahui sangat jarang mengenakan atribut yang biasa digunakan oleh seorang ulama. Ia juga dikenal sangat akrab dan menjadi salah satu sahabat dekat dari Gus Dur, mulai dari masa muda hingga akhir hayatnya.

Memiliki kecintan terhadap Tanah Air dan rasa nasionalisme yang tinggi, merupakan cara Mbah Liem dalam menjaga dan memelihara warisan dari para pendiri bangsa, termasuk juga ulama yang memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah.

Pancasila menurutnya sudah final dan tidak akan bisa diganggu gugat lagi. Dasar negara yang bukan Pancasila ia pastikan tidak mungkin bisa berlaku dengan baik bagi Indonesia. Dengan negara berlandaskan Pancasila, Mbah Liem menyakini Islam yang rahmatan lil alamin justru bisa benar – benar tecapai dan diterapkan.

Baca juga: Terungkap! Ternyata Seperti Ini Sejarah Mata Uang Indonesia Hingga Bernama Rupiah

Dalam Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti, para santri MTs dan MA wajib mengikuti upaca bendera. Dalam berbagai acara, pesantren ini juga selalu wajib menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

“Kadang sebelum ngaji santri diminta menghafal Pancasila dan UUD 45. Sebelum salat pun kita selalu membaca doa untuk keselamatan NKRI dan kesejahteraan bangsa. Doanya anak-anak pasti hafal semua itu. Kalau ada kiai enggak setuju dengan itu ya artinya kiai liar,” ungkap dia.

Mbah Liem meninggal pada 2012 saat berusia 91 tahun. Makamnya berada di sebuah joglo kompleks pondok pesantren. Bangunan Jawa itu dinamai Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia.

 

 

Comments

comments

Add Comment